JurnalLugas.Com — Jalur Gaza kembali berada dalam kondisi darurat kemanusiaan yang mengkhawatirkan. Organisasi medis internasional Doctors Without Borders atau Médecins Sans Frontières (MSF) mengeluarkan peringatan keras terkait meningkatnya angka kematian anak-anak akibat cuaca dingin ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
MSF mengungkapkan, musim dingin yang disertai hujan lebat dan badai parah telah memperburuk situasi warga Palestina, khususnya anak-anak yang hidup dalam kondisi pengungsian dengan fasilitas sangat terbatas. Tenda-tenda darurat yang rapuh dan kerap terendam air membuat risiko kesehatan semakin tinggi.
Dalam pernyataan resminya, MSF menyampaikan kisah tragis meninggalnya seorang bayi berusia 29 hari di Rumah Sakit Nasser, Gaza bagian selatan. Bayi tersebut meninggal dunia hanya dua jam setelah tiba di bangsal anak yang mendapat dukungan medis dari MSF.
“Upaya medis telah dilakukan semaksimal mungkin, namun nyawa bayi tersebut tidak tertolong. Penyebab kematian adalah hipotermia berat,” tulis perwakilan MSF dalam keterangan singkatnya, Sabtu (20/12/2025).
Risiko Kesehatan Anak Meningkat Tajam
MSF menegaskan bahwa kombinasi antara cuaca dingin ekstrem dan kondisi hidup yang tidak layak telah meningkatkan ancaman kesehatan secara signifikan. Tim medis di lapangan terus mencatat tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut, terutama pada anak-anak.
Menurut MSF, jumlah kasus tersebut diperkirakan akan terus meningkat sepanjang musim dingin. Anak-anak di bawah usia lima tahun menjadi kelompok paling rentan, dengan risiko komplikasi serius hingga kematian apabila tidak segera mendapat penanganan medis yang memadai.
“Lingkungan yang lembap, dingin, dan padat sangat mempercepat penyebaran penyakit pernapasan,” ungkap salah satu petugas medis MSF secara singkat.
Badai dan Hujan Perparah Kondisi Pengungsi
Selain suhu dingin, badai dan hujan deras yang melanda Gaza dalam beberapa waktu terakhir turut memperparah penderitaan ratusan ribu warga. Banyak keluarga terpaksa bertahan di tenda-tenda yang bocor dan terendam air, tanpa perlindungan memadai dari cuaca ekstrem.
Situasi ini membuat kebutuhan akan selimut, pakaian hangat, obat-obatan, serta akses layanan kesehatan menjadi semakin mendesak. Namun, keterbatasan akses bantuan membuat upaya penyelamatan nyawa berjalan sangat lambat.
MSF Desak Israel Buka Jalur Bantuan
Menghadapi kondisi kritis ini, MSF secara tegas menyerukan kepada otoritas Israel agar segera mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam skala besar dan dengan intensitas tinggi ke Jalur Gaza. Organisasi tersebut menilai bahwa tanpa akses bantuan yang memadai, krisis kemanusiaan berpotensi menelan lebih banyak korban, terutama anak-anak.
“Setiap keterlambatan berarti mempertaruhkan nyawa warga sipil,” tegas MSF.
Krisis kemanusiaan di Gaza kini tidak hanya berkaitan dengan konflik, tetapi juga perjuangan bertahan hidup menghadapi alam dan keterbatasan akses dasar. Dunia internasional kembali didesak untuk memberikan perhatian serius sebelum tragedi serupa terus berulang.
Baca berita kemanusiaan dan isu global lainnya hanya di JurnalLugas.Com.






