JurnalLugas.Com – Program MBG (Makan Bergizi Gratis) kembali menjadi sorotan setelah sejumlah warga mengeluhkan menu yang dibagikan kepada siswa selama bulan Ramadhan. Paket yang diterima disebut hanya berisi sepotong roti, satu bungkus kecil kacang, dan lima butir kurma. Menu tersebut dinilai terlalu sederhana dan tidak sebanding dengan anggaran yang selama ini disampaikan ke publik.
Keluhan muncul dari beberapa orang tua murid yang mempertanyakan apakah komposisi tersebut sudah sesuai dengan standar gizi anak sekolah. Mereka juga menyoroti nilai ekonominya yang diperkirakan berada di kisaran Rp4.000 hingga Rp5.000 berdasarkan harga eceran umum, sementara anggaran bahan makanan MBG sebelumnya disebut mencapai Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi.
“Cari cuan doang, roti sepotong, kacang sebungkus plastik 1 jari, kurma 6 biji, paling modal Rp5 ribu,” jelas seorang warga Medan, Rabu 25 Februari 2026.
Program MBG merupakan kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan asupan gizi siswa, termasuk anak PAUD, SD, hingga kelompok rentan seperti ibu hamil dan menyusui. Selama Ramadhan, skema pembagian menu disesuaikan agar dapat dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa. Namun, penyesuaian tersebut seharusnya tetap mengacu pada prinsip gizi seimbang.
Secara umum, kebutuhan satu kali makan anak usia sekolah dasar berkisar antara 400 hingga 600 kilokalori dengan kandungan protein sekitar 15–25 gram. Selain karbohidrat, menu ideal juga mengandung protein hewani atau nabati yang cukup, sayur, dan buah sebagai sumber vitamin serta mineral. Jika komposisi yang dibagikan hanya berupa roti, kacang dalam jumlah kecil, dan kurma tanpa tambahan sumber protein lain, sejumlah ahli menilai kecukupan gizinya patut dipertanyakan.
Di sisi lain, dalam pelaksanaan MBG, pemerintah menggandeng mitra penyedia seperti yayasan atau katering untuk menyiapkan dan mendistribusikan makanan. Selain biaya bahan pangan, terdapat komponen operasional seperti tenaga kerja, kemasan, serta distribusi. Perbedaan antara harga eceran dan harga kontrak pengadaan juga kerap menjadi faktor dalam perhitungan biaya.
Meski demikian, masyarakat menilai transparansi menjadi hal penting agar tidak muncul kecurigaan. Jika terdapat selisih signifikan antara anggaran resmi dan kualitas menu yang diterima siswa, pengawasan dan audit dinilai perlu dilakukan. Sebaliknya, jika menu tersebut hanya bagian dari paket yang belum lengkap atau terdapat miskomunikasi dalam distribusi, klarifikasi terbuka dari pihak terkait diharapkan dapat meredakan polemik.
Program MBG memiliki tujuan strategis untuk memperbaiki kualitas gizi generasi muda. Karena itu, konsistensi antara anggaran, standar gizi, dan realisasi di lapangan menjadi kunci menjaga kepercayaan publik terhadap program tersebut.
Baca informasi kebijakan publik dan isu nasional terbaru secara mendalam di https://JurnalLugas.Com
(SF)






