JurnalLugas.Com — Ruang publik kembali diramaikan oleh polemik iklan komersial setelah materi promosi IM3 dari Indosat Ooredoo Hutchison menuai sorotan. Pesan dalam iklan tersebut dianggap menyinggung praktik pengumpulan zakat dan memicu kekhawatiran di kalangan pengelola zakat nasional.
Reaksi keras datang dari Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat yang menilai narasi dalam iklan tersebut berpotensi menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat. Ketua Umum POROZ, Bukhori Muslim, menyebut penggunaan diksi dalam kampanye itu tidak mencerminkan sensitivitas sosial.
“Iklan harusnya mengedukasi tanpa memicu prasangka. Dalam konteks ini, penyampaiannya justru bisa disalahartikan,” ujarnya singkat dalam keterangan di Jakarta, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, pengaitan ajakan zakat dengan indikasi penipuan berisiko merusak kepercayaan publik terhadap lembaga resmi. Padahal, pengelolaan zakat di Indonesia telah memiliki dasar hukum kuat melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 yang mengatur transparansi dan akuntabilitas lembaga amil.
POROZ menilai, di tengah upaya memperluas literasi zakat dan meningkatkan partisipasi masyarakat, munculnya narasi yang ambigu justru dapat menjadi hambatan baru. Masyarakat dikhawatirkan menjadi ragu untuk merespons komunikasi dari lembaga zakat resmi, termasuk layanan jemput zakat yang selama ini berjalan.
Bukhori menambahkan bahwa kampanye anti-penipuan memang penting, namun harus disusun secara hati-hati agar tidak menyentuh aspek sensitif. “Pesan edukasi tetap bisa disampaikan dengan contoh yang netral, tanpa mengaitkan dengan praktik ibadah,” katanya.
Sebagai bentuk respons, POROZ mendesak pihak IM3 untuk segera mengambil langkah konkret. Mulai dari penyampaian permohonan maaf secara terbuka hingga penarikan seluruh materi iklan dari ruang publik dalam waktu cepat.
Selain itu, mereka juga meminta adanya komitmen dari manajemen perusahaan untuk memperketat proses kurasi konten kreatif di masa mendatang. Hal ini dinilai penting agar kampanye komersial tetap sejalan dengan nilai sosial dan keberagaman yang hidup di masyarakat.
Hingga kini, Indosat Ooredoo Hutchison belum memberikan pernyataan resmi terkait kritik yang berkembang.
Peristiwa ini menjadi cerminan bahwa strategi komunikasi brand di era digital tidak lagi sekadar soal kreativitas, tetapi juga kepekaan. Di tengah masyarakat yang semakin kritis, setiap pesan yang disampaikan ke publik perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang, termasuk terhadap kepercayaan dan harmoni sosial.
Ikuti perkembangan isu nasional lainnya hanya di JurnalLugas.Com
(SF)






