JurnalLugas.Com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memasuki tahap baru yang lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) membuka ruang bagi para pelajar untuk ikut menentukan menu makanan yang mereka konsumsi setiap hari di sekolah.
Kebijakan ini dinilai menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas layanan gizi sekaligus mengurangi potensi makanan terbuang akibat menu yang tidak sesuai selera anak-anak.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan usulan menu dari siswa nantinya akan ditampung oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di masing-masing wilayah. Menurutnya, pendekatan tersebut dibuat agar program MBG tidak hanya sekadar membagikan makanan, tetapi juga memperhatikan kenyamanan penerima manfaat.
Dalam peresmian SPPG di Citaringgul, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Senin 11 Mei 2026, Dadan menjelaskan bahwa pihak penyalur akan aktif meminta masukan dari siswa terkait menu favorit maupun jenis makanan yang kurang diminati.
Ia menyebut evaluasi akan dilakukan secara berkala, mulai dari tekstur nasi hingga variasi lauk dan sayuran. Jika ditemukan banyak siswa tidak menyukai nasi tertentu, maka menu dapat diganti dengan alternatif lain yang tetap memenuhi standar gizi.
“SPPG akan mencatat aspirasi anak-anak. Jadi nanti terlihat siapa yang suka nasi pera, siapa yang lebih suka nasi pulen, termasuk soal tekstur makanan,” ujar Dadan.
Langkah tersebut diyakini dapat membuat program MBG lebih efektif dalam membangun pola makan sehat di lingkungan sekolah. BGN juga mulai memetakan kebiasaan makan siswa di berbagai daerah karena selera pangan setiap wilayah dinilai berbeda.
Tidak hanya itu, Dadan mengungkapkan adanya perubahan perilaku positif dari peserta program. Sejumlah siswa yang sebelumnya tidak menyukai sayuran kini mulai terbiasa mengonsumsi makanan sehat setelah rutin menerima paket MBG di sekolah.
Fenomena itu dianggap sebagai sinyal baik dalam upaya membangun budaya makan sehat sejak usia dini. Pemerintah berharap program ini tidak hanya menekan angka kekurangan gizi, tetapi juga membentuk kebiasaan konsumsi pangan bergizi dalam jangka panjang.
Saat ini, program MBG telah didukung 28.390 unit SPPG yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Jaringan tersebut melayani sekitar 62 juta penerima manfaat, mulai dari siswa sekolah hingga kelompok masyarakat tertentu.
Di Kecamatan Babakan Madang sendiri, SPPG Citaringgul menjadi unit ke-14 yang resmi beroperasi. Dalam kunjungannya, Dadan turut memantau langsung proses distribusi makanan menuju sekolah-sekolah penerima manfaat.
Distribusi dilakukan menggunakan kendaraan pengangkut hingga titik tertentu sebelum diteruskan memakai gerobak agar makanan tetap cepat sampai dan dalam kondisi layak konsumsi. Skema itu diterapkan untuk menjangkau sekolah dengan akses lingkungan yang lebih sempit.
Program MBG menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan melibatkan siswa dalam penentuan menu, pemerintah ingin memastikan program ini berjalan lebih humanis, tepat sasaran, dan diterima baik oleh anak-anak di seluruh daerah.
Selengkapnya berita nasional dan kebijakan publik terbaru baca di JurnalLugas.Com
(Soefriyanto)






