Harga Minyak Dunia Turun Tajam Usai AS dan Iran Hentikan Serangan, Brent Menjauh dari USD100

silhouette industrial pump jack and falling oil graph on the blue globe background

JurnalLugas.Com – Pasar energi global mulai menunjukkan tanda-tanda mereda setelah harga minyak mentah dunia terkoreksi pada perdagangan Selasa (28/7/2026).

Penurunan ini terjadi menyusul meredanya eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang sebelumnya memicu lonjakan harga minyak hingga mendekati level psikologis USD100 per barel.

Bacaan Lainnya

Selama dua pekan terakhir, pasar minyak berada dalam tekanan akibat meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran terhadap terganggunya jalur distribusi energi membuat harga minyak melonjak tajam dan memicu kecemasan di berbagai negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Namun, perkembangan terbaru terkait penghentian sementara aksi militer kedua negara memberikan sentimen positif bagi pelaku pasar.

Investor mulai mengurangi aksi beli yang sebelumnya didorong oleh kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.

Berdasarkan data perdagangan pada Selasa pagi waktu Indonesia, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September 2026 turun sekitar 1,08 persen menjadi USD81,72 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent juga melemah sekitar 0,84 persen ke posisi USD87,62 per barel.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Melemah Kekhawatiran Pasokan Berlebih Meningkat Ini Analisnya

Tekanan jual sebenarnya sudah terlihat sejak sesi perdagangan sebelumnya. Kontrak Brent yang berakhir pada Oktober sempat merosot sekitar 6,5 persen hingga berada di kisaran USD85,67 per barel. Adapun kontrak WTI untuk September tercatat turun lebih dalam, yakni sekitar 7,8 persen menjadi USD82,32 per barel.

Koreksi tersebut menjadi pembalikan arah setelah reli harga yang berlangsung hampir tanpa henti selama dua minggu terakhir.

Dalam periode itu, Brent melonjak sekitar 20,6 persen, sedangkan WTI menguat sekitar 19,2 persen akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.

Sebelumnya, harga Brent bahkan sempat menembus level USD100 per barel, level yang terakhir kali menjadi perhatian serius pasar setelah konflik di Timur Tengah meluas.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat saat itu disebut telah menjalar hingga kawasan Laut Merah, memperbesar risiko gangguan terhadap jalur pelayaran internasional dan distribusi minyak dari kawasan Teluk.

Analis menilai, meredanya ketegangan untuk sementara memberikan ruang bagi pasar melakukan penyesuaian harga.

Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan diplomatik maupun potensi perubahan situasi keamanan di kawasan karena setiap eskalasi baru dapat kembali mendorong volatilitas harga minyak.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Tembus USD101, Selat Hormuz Memanas usai Bentrokan AS-Iran

Pergerakan harga minyak dunia memiliki dampak luas terhadap perekonomian global. Selain memengaruhi biaya transportasi dan logistik, perubahan harga minyak juga berpotensi memengaruhi inflasi, harga bahan bakar, hingga kebijakan energi di berbagai negara.

Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak internasional menjadi salah satu faktor penting dalam perhitungan subsidi energi, biaya impor minyak mentah, serta stabilitas harga bahan bakar di dalam negeri.

Karena itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah terus menjadi perhatian pemerintah dan pelaku usaha.

Dengan kondisi yang masih dinamis, pasar diperkirakan akan bergerak sangat sensitif terhadap setiap informasi baru terkait hubungan AS dan Iran maupun perkembangan keamanan di jalur pelayaran strategis dunia.

Ikuti berita ekonomi, energi, dan perkembangan pasar global terbaru hanya di JurnalLugas.Com: https://jurnallugas.com

(William)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait