JurnalLugas.Com – Pemanis sering menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari pola makan sehari-hari. Bagi penderita diabetes, persoalannya bukan sekadar soal rasa manis, tetapi bagaimana pilihan pemanis memengaruhi asupan gula, karbohidrat, kalori dan pengendalian gula darah.
Di tengah banyaknya produk berlabel rendah gula, bebas gula hingga pemanis buatan, muncul pula berbagai anggapan yang belum tentu benar. Ada yang menganggap semua pemanis berbahaya bagi penderita diabetes. Sebaliknya, ada pula yang mengira produk tanpa gula bisa dikonsumsi tanpa batas.
Kedua pandangan tersebut sama-sama perlu diluruskan.
Mitos: Semua pemanis langsung menaikkan gula darah
Tidak semua pemanis memberikan efek yang sama terhadap kadar gula darah. Pemanis nonnutritif atau rendah kalori seperti stevia, sukralosa, sakarin dan beberapa jenis lainnya umumnya digunakan dalam jumlah kecil dan memiliki sedikit atau bahkan tanpa kalori.
Pedoman diabetes terbaru menyebut pemanis nonnutritif dapat digunakan sebagai pengganti produk yang mengandung gula, terutama untuk membantu mengurangi asupan karbohidrat dan kalori dalam jangka pendek, dengan catatan tetap dikonsumsi secara moderat.
Namun, produk yang menggunakan pemanis pengganti tetap perlu diperhatikan. Label “bebas gula” tidak otomatis berarti seluruh makanan tersebut bebas karbohidrat atau tidak memengaruhi gula darah.
Fakta: Air putih tetap menjadi pilihan utama
Mengganti minuman manis dengan air putih merupakan langkah sederhana yang justru lebih penting daripada sekadar mencari pengganti gula.
American Diabetes Association menganjurkan penderita diabetes lebih mengutamakan air dibandingkan minuman yang diberi pemanis. Minuman rendah atau tanpa kalori dapat menjadi alternatif ketika seseorang sedang mengurangi konsumsi minuman bergula.
Artinya, pemanis pengganti bukan alasan untuk mempertahankan kebiasaan mengonsumsi minuman manis sepanjang hari.
Mitos: Kalau tanpa gula berarti boleh dikonsumsi sebanyak-banyaknya
Ini salah satu kesalahpahaman yang cukup umum.
Makanan tanpa gula tambahan belum tentu rendah kalori, rendah karbohidrat atau memiliki kandungan gizi yang baik. Bahan lain dalam makanan tersebut tetap bisa memberikan kalori dan karbohidrat.
Karena itu, penderita diabetes sebaiknya tidak hanya melihat tulisan pada bagian depan kemasan. Informasi nutrisi dan komposisi tetap perlu diperiksa sebelum menentukan seberapa banyak makanan atau minuman dikonsumsi.
Fakta: Pemanis pengganti bisa membantu, tetapi bukan solusi utama
Pemanis rendah kalori dapat berguna bagi orang yang sedang berusaha mengurangi konsumsi gula. Penggantian gula dengan pemanis nonnutritif berpotensi menurunkan asupan kalori dan karbohidrat apabila tidak diikuti dengan kompensasi makan lebih banyak dari sumber lain.
Dengan kata lain, manfaatnya sangat bergantung pada pola makan secara keseluruhan.
Penderita diabetes tetap membutuhkan makanan bernutrisi, terutama sumber karbohidrat yang lebih berkualitas dan tinggi serat. Mengganti gula saja tanpa memperbaiki pola makan tidak otomatis membuat pola konsumsi menjadi sehat.
Mitos: Semua pemanis buatan berbahaya bagi penderita diabetes
Anggapan tersebut terlalu sederhana.
Sejumlah pemanis nonnutritif telah melalui evaluasi keamanan oleh otoritas terkait dan dapat digunakan oleh masyarakat, termasuk orang dengan diabetes, dalam batas penggunaan yang ditetapkan. American Diabetes Association juga menyatakan pemanis tersebut dapat digunakan sebagai pengganti produk bergula secara moderat.
Meski demikian, keamanan tidak sama dengan anjuran untuk mengonsumsinya sebanyak mungkin.
Badan Kesehatan Dunia atau WHO sendiri menekankan bahwa pemanis non-gula bukan strategi utama untuk mengendalikan berat badan dalam jangka panjang. WHO menyarankan masyarakat mencari cara lain untuk mengurangi konsumsi gula bebas, termasuk memilih makanan dan minuman yang tidak terlalu manis.
Francesco Branca dari WHO pernah menegaskan bahwa mengganti gula bebas dengan pemanis non-gula tidak terbukti membantu pengendalian berat badan dalam jangka panjang.
Fakta: Jenis pemanis juga perlu diperhatikan
Pemanis nonnutritif berbeda dengan gula alkohol atau polyol seperti sorbitol, xylitol, manitol dan maltitol.
Gula alkohol biasanya memberikan lebih sedikit kalori dibandingkan gula biasa, tetapi tetap dapat memberikan pengaruh terhadap asupan karbohidrat. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar, beberapa jenis juga dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti kembung, gas atau diare.
Karena itu, istilah “pemanis” tidak bisa dipukul rata. Jenis dan jumlah konsumsinya tetap menentukan.
Yang paling penting bagi penderita diabetes
Tidak ada satu pemanis yang secara otomatis membuat pola makan menjadi sehat. Yang lebih penting adalah keseluruhan pola makan, jumlah karbohidrat, aktivitas fisik, berat badan, obat yang digunakan dan kondisi gula darah masing-masing orang.
Pemanis pengganti dapat menjadi alat bantu untuk mengurangi gula, tetapi sebaiknya tidak menjadi alasan untuk mempertahankan kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman yang terlalu manis.
Pilihan paling sederhana tetap mengurangi tingkat kemanisan makanan secara bertahap dan membiasakan diri mengonsumsi minuman tanpa gula. Bagi penderita diabetes yang memiliki kondisi khusus atau menggunakan obat tertentu, pilihan pemanis dan pola makan sebaiknya disesuaikan bersama tenaga kesehatan.
Jadi, mitos bahwa semua pemanis pasti berbahaya tidak sepenuhnya benar. Namun, anggapan bahwa pemanis pengganti bebas dikonsumsi tanpa batas juga keliru.
Kuncinya bukan sekadar mencari pengganti gula, tetapi mengurangi ketergantungan terhadap rasa manis dan membangun pola makan yang lebih seimbang.
Baca berita lainnya JurnalLugas.Com.
(Wening)






