Sudaryono MBG Harus Dimakan Maksimal 4 Jam, Jangan Dibawa Pulang

JurnalLugas.Com – Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah muncul sejumlah insiden dugaan keracunan pangan di beberapa daerah.

Kepala BGN, Sudaryono, menegaskan makanan yang disediakan dalam program tersebut harus segera dikonsumsi di lingkungan sekolah dan tidak dianjurkan dibawa pulang oleh para siswa.

Bacaan Lainnya

Penegasan itu disampaikan sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG, menyusul laporan gangguan kesehatan yang terjadi di Papua dan Semarang, Jawa Tengah.

Pemerintah kini memperkuat pengawasan mulai dari proses produksi, distribusi hingga makanan diterima peserta didik.

Menurut Sudaryono, keamanan pangan menjadi prioritas utama dalam keberhasilan Program MBG.

Karena itu, seluruh makanan yang diproduksi wajib mengikuti standar keamanan yang telah ditetapkan sejak selesai dimasak hingga disantap oleh penerima manfaat.

Ia menjelaskan bahwa makanan dalam Program MBG memiliki batas waktu konsumsi yang ketat. Idealnya, makanan dikonsumsi tidak lebih dari empat jam setelah proses memasak selesai agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.

“Kami memastikan seluruh proses distribusi mengikuti standar yang berlaku. Makanan harus segera dikonsumsi dan memiliki batas waktu konsumsi yang jelas agar kualitasnya tetap aman,” ujar Sudaryono dalam konferensi pers mengenai refocusing Program MBG di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Sudaryono menegaskan BGN menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap setiap kejadian yang berpotensi mengancam keselamatan peserta Program MBG.

Seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diwajibkan menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara disiplin tanpa pengecualian.

Selain memperketat pengawasan di dapur penyedia makanan, BGN juga melibatkan pihak sekolah untuk memperkuat edukasi kepada siswa.

Guru diminta mengingatkan agar makanan tidak dibawa pulang karena menu MBG diproduksi tanpa bahan pengawet sehingga lebih rentan mengalami penurunan kualitas apabila disimpan terlalu lama.

Menurut Sudaryono, kondisi cuaca panas dapat mempercepat pertumbuhan bakteri pada makanan yang tidak segera dikonsumsi.

Oleh sebab itu, siswa diimbau menghabiskan makanan saat jam makan di sekolah guna meminimalkan risiko gangguan kesehatan.

BGN juga mendorong guru ikut menikmati makanan bersama peserta didik. Langkah tersebut bukan sekadar memberi contoh kebiasaan baik seperti mencuci tangan, antre dengan tertib, berdoa sebelum makan, serta menjaga kebersihan wadah makan, tetapi juga menjadi sarana memberikan pemahaman mengenai pentingnya gizi seimbang.

Ia mengungkapkan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah agar edukasi mengenai keamanan pangan serta tata cara mengonsumsi MBG menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah.

Penguatan edukasi dinilai menjadi salah satu langkah preventif untuk mencegah terulangnya insiden serupa di berbagai daerah.

Pemerintah berharap seluruh pihak, mulai dari penyedia makanan, sekolah hingga orang tua, memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya menjaga kualitas makanan sebelum dikonsumsi.

Di sisi lain, BGN memastikan setiap laporan dugaan keracunan akan ditangani melalui prosedur yang ketat.

Begitu ada laporan masuk, operasional dapur atau SPPG terkait langsung dihentikan sementara sambil menunggu hasil pemeriksaan.

Sampel makanan kemudian diuji oleh laboratorium Dinas Kesehatan di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan guna memastikan penyebab insiden tersebut. Hasil investigasi menjadi dasar penentuan langkah lanjutan terhadap pengelola dapur.

Sudaryono menegaskan apabila ditemukan pelanggaran terhadap SOP, BGN tidak akan ragu mengambil tindakan tegas.

Kepala SPPG yang bertanggung jawab dapat dicopot dari jabatannya apabila terbukti lalai menjalankan standar keamanan pangan.

“Kami langsung menghentikan sementara operasional dapur terkait, melakukan pengujian laboratorium, lalu menyelidiki penyebabnya. Jika ada kelalaian, pengelola akan ditindak sesuai hasil investigasi,” tegasnya.

Langkah pengawasan berlapis tersebut diharapkan mampu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu program strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia.

Informasi dan berita nasional lainnya dapat diikuti melalui JurnalLugas.Com.

(Catur)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Mobil Berlogo BGN Angkut Babi dan Ayam, Ini Respon Nanik

Pos terkait