134 Santri dan Pengajar Ponpes Baiti Jannati Sukabumi Keracunan MBG

JurnalLugas.Com — Kasus dugaan keracunan makanan kembali terjadi di lingkungan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kali ini, ratusan santri dan seorang pengajar di Pondok Pesantren Baiti Jannati, Kota Sukabumi, Jawa Barat, mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan yang diduga berasal dari program tersebut.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 134 orang dilaporkan terdampak. Mereka terdiri dari 133 santri tingkat SMP dan SMA serta satu ustazah. Para korban mengalami sejumlah keluhan, mulai dari pusing, mual, mulas, diare hingga muntah-muntah.

Gejala pertama mulai dirasakan sejumlah santri sekitar pukul 14.30 WIB setelah mereka mengonsumsi makanan MBG. Keluhan kemudian bertambah pada malam hari dan jumlah santri yang mengalami gangguan kesehatan terus meningkat.

Situasi semakin terlihat serius setelah kegiatan halaqah subuh. Sejumlah santri mengalami muntah-muntah sehingga pengurus pesantren segera membawa mereka untuk mendapatkan pertolongan medis.

Pengurus Ponpes Baiti Jannati, Faid Fauzan, mengatakan jumlah korban bertambah secara bertahap hingga mencapai 134 orang.

“Korban yang tercatat sebanyak 133 santri dan satu ustazah,” kata Faid, Minggu, 16 Agustus 2026.

Awalnya, beberapa santri dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan. Karena jumlah pasien terus bertambah, mereka kemudian diarahkan menuju IGD RSUD Al-Mulk.

Sebagian korban selanjutnya dirujuk ke RSUD R Syamsudin SH atau yang dikenal sebagai RS Bunut di Sukabumi.

Penanganan medis dilakukan untuk memastikan kondisi para korban tetap terpantau dan mendapatkan perawatan sesuai keluhan yang dialami.

Dari total 645 santri yang tinggal di lingkungan pesantren, sebagian mengalami gejala setelah menyantap makanan. Pengurus pesantren kini memusatkan perhatian pada kondisi para santri dan pengajar yang terdampak.

Pihak pesantren juga menyatakan akan melakukan evaluasi internal. Selain itu, pengurus meminta Dinas Kesehatan Kota Sukabumi melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui sumber persoalan sekaligus memberikan edukasi mengenai pengelolaan makanan.

Sampel Makanan dan Korban Diperiksa

Dugaan keracunan tersebut langsung ditindaklanjuti Dinas Kesehatan Kota Sukabumi melalui penyelidikan epidemiologi.

Tim kesehatan mengumpulkan sejumlah sampel untuk diperiksa di laboratorium. Sampel tersebut tidak hanya berasal dari korban, tetapi juga dari makanan yang tersedia di lingkungan pesantren.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Ida Halimah, menjelaskan bahwa petugas mengambil sampel feses dan muntahan dari korban. Sisa makanan MBG juga diamankan untuk pemeriksaan.

Selain itu, petugas mengambil sejumlah makanan yang berada di dapur pesantren, termasuk nasi, sayuran, tempe, telur dan susu.

Menurut Ida, pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mencari penyebab munculnya gejala secara lebih pasti.

“Kami mengambil sampel untuk pemeriksaan laboratorium guna mengetahui kemungkinan bakteri penyebabnya,” ujar Ida.

Sebagian sampel kemudian dikirim ke Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat karena pemeriksaan tertentu tidak dapat dilakukan secara maksimal di tingkat kota.

Hasil laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Selama proses tersebut, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para santri dan pengajar belum dapat dipastikan.

Artinya, dugaan bahwa makanan MBG menjadi sumber keracunan masih membutuhkan pembuktian melalui pemeriksaan medis dan laboratorium.

Kondisi ini menjadi penting karena gejala yang muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu belum otomatis membuktikan bahwa makanan tersebut merupakan penyebabnya.

Tim kesehatan perlu mencocokkan hasil pemeriksaan korban, sampel makanan, serta berbagai kemungkinan sumber kontaminasi.

Penelusuran juga diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara jenis makanan yang dikonsumsi dengan gejala yang dialami para korban.

Kasus di Ponpes Baiti Jannati menambah perhatian terhadap aspek keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.

Program tersebut tidak hanya dituntut mampu menyediakan makanan bergizi bagi penerima manfaat, tetapi juga memastikan makanan diproses, disimpan dan didistribusikan dalam kondisi yang memenuhi standar keamanan.

Bagi para santri dan pengajar yang terdampak, prioritas saat ini adalah pemulihan kondisi kesehatan. Sementara bagi pemerintah daerah dan pengelola program, hasil penyelidikan epidemiologi serta pemeriksaan laboratorium akan menjadi dasar penting untuk menentukan langkah selanjutnya.

Jika nantinya ditemukan sumber kontaminasi atau pelanggaran dalam proses penyediaan makanan, evaluasi terhadap rantai pengolahan hingga distribusi perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Hingga hasil laboratorium keluar, masyarakat diminta tidak menarik kesimpulan sebelum penyebab dugaan keracunan tersebut benar-benar diketahui.

Pemeriksaan ilmiah menjadi bagian penting untuk memastikan apakah makanan MBG memang berkaitan langsung dengan gangguan kesehatan yang dialami 134 santri dan pengajar Ponpes Baiti Jannati.

Baca berita terbaru dan informasi terpercaya lainnya di JurnalLugas.Com.

(Bowo)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  BGN Minta SPPG Upload Menu MBG di Medsos, Masyarakat Boleh Protes

Pos terkait