Gempa M 7,7 Guncang NTT, Kemenkes Targetkan RSUD Kembali Beroperasi Sepekan

JurnalLugas.Com — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak mempercepat pemulihan fasilitas kesehatan setelah gempa kuat mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pemerintah menargetkan rumah sakit daerah yang terdampak dapat kembali menjalankan pelayanan dasar paling lambat dalam waktu satu pekan.

Bacaan Lainnya

Pemulihan diprioritaskan pada layanan yang paling dibutuhkan masyarakat setelah bencana, terutama penanganan trauma, kesehatan ibu dan anak, serta pelayanan hemodialisa bagi pasien yang membutuhkan cuci darah.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan, kondisi RSUD Nagekeo menjadi salah satu perhatian utama karena fasilitas rumah sakit tersebut mengalami kerusakan berat.

Sebagai langkah darurat, Kemenkes menyiapkan pengiriman RS Mobil ke Nagekeo. Fasilitas tersebut akan dilengkapi kebutuhan medis penting, termasuk ruang operasi agar tindakan kegawatdaruratan tetap dapat dilakukan tanpa menunggu seluruh bangunan rumah sakit selesai dipulihkan.

Untuk mendukung sistem rujukan, RSUD Borong dan RSUD Komodo juga dipersiapkan menerima pasien dari Nagekeo apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Berdasarkan pendataan sementara Kemenkes, terdapat 21 rumah sakit di delapan kabupaten dan kota di NTT yang terdampak gempa. Sebanyak enam rumah sakit mengalami kerusakan ringan dan tiga lainnya masuk kategori rusak berat.

Dari sisi operasional, 16 rumah sakit masih mampu menjalankan pelayanan secara penuh. Empat rumah sakit hanya beroperasi sebagian, sedangkan satu fasilitas kesehatan belum dapat memberikan layanan.

Baca Juga  Korban Gempa Kembar Venezuela Hampir Seribu Jiwa, Jorge Rodríguez Ribuan Luka

Kondisi serupa juga terjadi pada jaringan puskesmas. Dari total 190 puskesmas yang terdampak, sebanyak 122 masih beroperasi penuh, 49 beroperasi secara terbatas, dan 19 lainnya belum kembali melayani masyarakat.

Kerusakan puskesmas tercatat bervariasi, mulai dari 11 fasilitas dengan kerusakan ringan, 37 rusak sedang hingga 20 puskesmas yang mengalami kerusakan berat.

Kemenkes menargetkan seluruh puskesmas yang mengalami kerusakan setidaknya dapat kembali beroperasi dalam waktu dua pekan. Tahap awal difokuskan pada pelayanan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat pascabencana.

Menurut Agus, layanan ibu hamil, persalinan dan imunisasi menjadi prioritas dalam pemulihan puskesmas.

Langkah koordinasi juga diperkuat melalui pembentukan struktur Health Emergency Operation Center (HEOC). Pusat kendali tersebut nantinya menjadi dasar bagi penempatan tenaga kesehatan dan relawan sesuai kebutuhan di lapangan.

Agus menyebut pemetaan mengenai kondisi fasilitas kesehatan, alat kesehatan, obat-obatan serta berbagai kebutuhan medis lainnya sedang dirampungkan.

Data tersebut akan menjadi panduan bagi tim bantuan agar dapat mengetahui lokasi yang membutuhkan dukungan dan jenis bantuan yang diperlukan.

Kemenkes juga menyiapkan dukungan logistik kesehatan untuk menghadapi kondisi darurat. Bantuan tersebut mencakup delapan paket obat dasar, lima paket emergency kit, 1.000 sarung tangan steril, 20 ribu sarung tangan nonsteril, serta 20 ribu masker bedah.

Selain itu, pemerintah menyiapkan 10 unit oksigen konsentrator dan dua tenda untuk pos kesehatan. Delapan tenda tambahan disiagakan apabila diperlukan untuk mendukung pelayanan Emergency Medical Team (EMT) tipe 1.

Baca Juga  Gempa M6,4 Sumatera Utara Terasa hingga Pantai Barat Semenanjung Malaysia.

Seluruh langkah tersebut dilakukan setelah gempa kuat mengguncang NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026 sekitar pukul 04.58 WIB. Gempa dilaporkan berkekuatan magnitudo 7,7 dengan pusat getaran berada sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman sekitar 10 kilometer.

Guncangan tersebut sempat memunculkan peringatan dini tsunami. Namun, setelah pemantauan lebih lanjut tidak ditemukan adanya tsunami sehingga peringatan tersebut diakhiri BMKG pada pukul 09.00 WITA.

Dengan kondisi sejumlah fasilitas kesehatan yang masih mengalami kerusakan, percepatan pemulihan menjadi penting untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh layanan medis.

Terlebih, kebutuhan penanganan korban trauma, persalinan, imunisasi dan pasien dengan penyakit yang membutuhkan terapi rutin tidak dapat ditunda terlalu lama.

Pemerintah kini mengandalkan kombinasi pemulihan rumah sakit, pengoperasian fasilitas kesehatan darurat dan sistem rujukan antarrumah sakit untuk menjaga layanan kesehatan masyarakat NTT tetap berjalan selama proses rehabilitasi berlangsung.

Baca informasi terkini lainnya di JurnalLugas.Com.

(Soefriyanto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait