Cara Menjaga Ginjal bagi Penderita Diabetes, Jangan Tunggu Gejala Muncul

JurnalLugas.Com – Diabetes bukan hanya soal kadar gula darah. Dalam jangka panjang, gula darah yang terus tinggi dapat ikut membebani pembuluh darah kecil di ginjal dan meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis.

Masalahnya, kerusakan ginjal akibat diabetes sering berkembang perlahan tanpa keluhan yang mudah dikenali.

Bacaan Lainnya

Karena itu, menjaga kesehatan ginjal sebaiknya dimulai sejak diabetes terdiagnosis, bukan setelah muncul gangguan fungsi ginjal.

Data dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyebutkan diabetes merupakan salah satu penyebab utama penyakit ginjal, sementara banyak penderita belum menyadari adanya kerusakan karena gejalanya dapat minim pada tahap awal.

Langkah pertama yang tidak boleh diabaikan adalah menjaga gula darah tetap berada dalam target yang ditentukan dokter. Pemeriksaan gula darah secara berkala membantu melihat kondisi harian, sedangkan pemeriksaan HbA1c memberikan gambaran rata-rata kadar gula darah selama sekitar tiga bulan.

NIDDK menjelaskan, target HbA1c bagi banyak penderita diabetes berada di bawah 7 persen, tetapi angka tersebut tidak otomatis berlaku untuk semua orang. Target sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien bersama tenaga kesehatan.

Selain gula darah, tekanan darah juga perlu mendapat perhatian serius. Tekanan darah tinggi dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah ginjal dan membuat penurunan fungsi ginjal semakin sulit dikendalikan.

Standar perawatan diabetes 2026 dari American Diabetes Association merekomendasikan tekanan darah di bawah 130/80 mmHg untuk membantu menurunkan risiko kardiovaskular dan memperlambat perkembangan penyakit ginjal kronis pada penderita diabetes, dengan target tetap perlu disesuaikan berdasarkan kondisi pasien.

Baca Juga  Efek Samping Obat Pereda Nyeri terhadap Ginjal, Jangan Sembarangan Dikonsumsi Berulang

Pola makan juga berperan besar. Penderita diabetes sebaiknya membatasi makanan tinggi garam, gula tambahan, serta lemak tidak sehat.

Pilihan makanan dapat diarahkan pada sayuran, buah dalam porsi yang sesuai kebutuhan diabetes, biji-bijian utuh, dan sumber protein yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan.

Namun, jika seseorang sudah mengalami gangguan ginjal, kebutuhan makanannya bisa berbeda. Jumlah protein, natrium, kalium, maupun fosfor tidak sebaiknya diatur sendiri karena kebutuhan setiap pasien dapat berubah sesuai fungsi ginjal dan hasil pemeriksaan laboratorium. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi menjadi pilihan yang lebih aman.

Aktivitas fisik juga tidak kalah penting. Olahraga rutin membantu pengendalian gula darah, berat badan dan tekanan darah. Bagi orang yang sebelumnya jarang bergerak, aktivitas dapat dimulai secara bertahap sesuai kemampuan dan kondisi medis.

NIDDK merekomendasikan aktivitas fisik sekitar 30 menit atau lebih pada sebagian besar hari, dengan penyesuaian berdasarkan kondisi individu.

Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan. Menjaga berat badan tetap sehat, tidur cukup dan mengelola stres juga dapat membantu pengendalian faktor-faktor yang berhubungan dengan kesehatan ginjal.

Perubahan kecil yang dilakukan konsisten sering kali lebih mudah dipertahankan daripada perubahan ekstrem yang hanya berlangsung sebentar.

Hal lain yang sering luput adalah penggunaan obat pereda nyeri. Pemakaian obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen atau naproxen, secara rutin dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal.

Penderita diabetes, terlebih yang sudah memiliki masalah ginjal, sebaiknya tidak mengonsumsi obat bebas secara terus-menerus tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Yang tidak kalah penting, jangan menunggu munculnya gejala untuk memeriksa ginjal. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui tes darah untuk menilai fungsi penyaringan ginjal dan pemeriksaan urine untuk melihat keberadaan albumin.

Baca Juga  Gejala Batu Ginjal, Jangan Sampai Diabaikan, Kenali Tanda Awal Sebelum Terlambat

Albumin yang muncul dalam urine dapat menjadi tanda awal adanya gangguan pada ginjal. Pemeriksaan urine albumin-to-creatinine ratio (UACR) merupakan salah satu pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi dan memantau kerusakan ginjal.

NIDDK merekomendasikan pemeriksaan albumin urine setiap tahun bagi penderita diabetes tipe 2 serta penderita diabetes tipe 1 yang telah menjalani hidup dengan diabetes selama lima tahun atau lebih, dengan frekuensi pemeriksaan dapat ditingkatkan sesuai kondisi klinis.

Dengan kata lain, menjaga ginjal pada penderita diabetes tidak cukup hanya dengan mengurangi makanan manis. Pengendalian gula darah, tekanan darah, pola makan, aktivitas fisik, berat badan, obat-obatan dan pemeriksaan fungsi ginjal perlu berjalan bersama.

Kerusakan ginjal akibat diabetes memang dapat berkembang perlahan, tetapi bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan. Deteksi lebih awal memberi kesempatan lebih besar untuk melakukan langkah pengendalian sebelum fungsi ginjal mengalami penurunan yang lebih berat.

Bagi penderita diabetes, menjaga ginjal pada akhirnya merupakan bagian dari menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Pemeriksaan rutin dan kepatuhan terhadap anjuran dokter menjadi kunci, terutama jika sudah ditemukan tekanan darah tinggi, albumin dalam urine atau perubahan fungsi ginjal.

Baca berita dan informasi kesehatan lainnya hanya di JurnalLugas.Com.

(Wening)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait