JurnalLugas.Com – Operasi militer pemerintah Yaman yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi memasuki fase baru. Koalisi mengklaim telah menghancurkan 136 target militer kelompok Houthi dalam serangan yang diumumkan pada Jumat malam, 9 Oktober 2026.
Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan operasi tersebut menyasar para pejuang Houthi sekaligus melumpuhkan kemampuan tempur kelompok yang menguasai sebagian wilayah Yaman itu.
Melalui pernyataan di media sosial X, Al-Maliki menjelaskan bahwa koalisi memberikan dukungan udara selama 24 jam kepada pasukan pemerintah Yaman. Bantuan tersebut diarahkan untuk mendukung operasi yang sedang berlangsung di sejumlah wilayah konflik.
Menurut Al-Maliki, salah satu sasaran penting operasi tersebut adalah jaringan rudal balistik milik Houthi. Koalisi berupaya membongkar dan menghancurkan jaringan persenjataan itu untuk mengurangi kemampuan militer kelompok pemberontak tersebut.
Klaim penghancuran 136 target militer itu belum disertai rincian terbuka mengenai lokasi setiap sasaran maupun verifikasi independen atas dampak serangan.
Pemerintah Yaman Klaim Ribuan Serangan
Di tengah operasi yang didukung koalisi Saudi, pasukan pemerintah Yaman juga melaporkan peningkatan intensitas serangan melalui operasi bernama Dawn of Yemen.
Juru bicara militer Yaman, Brigadir Jenderal Majed Abdullah al-Nadhib, menyatakan pasukan pemerintah telah melancarkan lebih dari 2.750 serangan terhadap posisi Houthi dalam kurun 24 jam.
Al-Nadhib juga mengklaim operasi tersebut melumpuhkan lebih dari 1.400 anggota milisi Houthi serta menghancurkan atau merusak lebih dari 250 kendaraan dan peralatan militer.
Angka-angka tersebut merupakan klaim militer pemerintah Yaman. Belum ada verifikasi independen yang memastikan keseluruhan jumlah serangan, korban, maupun kerusakan yang dilaporkan.
Operasi tersebut bertujuan merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk Sanaa, ibu kota Yaman. Dukungan udara koalisi pimpinan Saudi menjadi bagian dari upaya pasukan pemerintah untuk memperluas kendali teritorialnya.
Konflik Yaman Berlangsung Sejak 2014
Konflik Yaman berakar pada perebutan kekuasaan setelah kelompok Houthi mengambil alih Sanaa pada 2014. Setahun kemudian, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.
Perang berkepanjangan tersebut membuat Yaman menghadapi ketidakstabilan politik dan krisis kemanusiaan yang serius.
Peningkatan serangan terbaru menunjukkan bahwa upaya merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi masih menjadi agenda utama pemerintah Yaman dan sekutunya.
Namun, dampak operasi terhadap keseimbangan kekuatan di lapangan belum dapat dipastikan hanya berdasarkan klaim militer dari pihak-pihak yang bertikai.
Baca berita internasional lainnya di JurnalLugas.Com: https://jurnallugas.com/
(Dahlan)






