PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI) Hentikan Produksi Aluminium Lembaran Akibat Ini

JurnalLugas.Com – PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI) secara resmi mengumumkan penghentian kegiatan produksi aluminium lembaran (rolling) akibat penurunan penjualan dalam beberapa tahun terakhir. Keputusan ini diambil setelah kinerja keuangan perusahaan terus mengalami tekanan dan tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Sejarah dan Perkembangan ALMI

ALMI telah menjadi bagian dari pasar modal Indonesia sejak melantai pada Januari 1997. Saat penawaran perdana (IPO), perusahaan menetapkan harga Rp1.300 per saham dan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp120 miliar. Awalnya, ALMI dikenal sebagai salah satu produsen aluminium terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas produksi mencapai 10.000 ton per bulan.

Bacaan Lainnya

Namun, sejak 2018, performa perusahaan mulai mengalami penurunan signifikan. Menurut Wibowo Suryadinata, Direktur sekaligus Corporate Secretary ALMI, salah satu faktor utama penurunan kinerja adalah pemberlakuan tarif bea masuk tinggi dari Amerika Serikat, yang sebelumnya menjadi pasar ekspor utama ALMI.

Baca Juga  Harga Aluminium Naik Gila-Gilaan, Pasokan Seret dan China Guncang Pasar Logam

Upaya Penyelamatan yang Belum Berhasil

Berbagai langkah strategis telah diambil perusahaan untuk memperbaiki kondisi, termasuk mencari pasar baru dan menjajaki peluang kerja sama dengan investor sektor aluminium lembaran. Sayangnya, upaya tersebut belum membuahkan hasil positif.

Pada tahun 2021, perusahaan juga menggelar aksi korporasi berupa rights issue dengan target dana Rp800 miliar guna memperkuat modal dan mengurangi beban utang. Namun, kendati tambahan dana tersebut berhasil terkumpul, performa operasional ALMI tetap tidak mengalami perbaikan yang signifikan.

Penghentian Produksi dan Dampak Finansial

Akhirnya, manajemen perusahaan memutuskan untuk menghentikan seluruh aktivitas operasional secara sementara, mencakup produksi, administrasi, hingga penjualan. Keputusan ini dipandang sebagai langkah terbaik untuk menekan kerugian lebih lanjut, meski beban bunga dan kewajiban iuran masih harus ditanggung.

Wibowo menyampaikan bahwa perusahaan tetap berupaya mencari investor dan mitra strategis untuk memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas operasional di masa mendatang. Namun, untuk saat ini, seluruh aktivitas perusahaan dihentikan tanpa batas waktu yang ditentukan.

Baca Juga  Inalum Cetak Rekor Produksi Alumunium Tertinggi Sepanjang Masa

Laporan Keuangan hingga Kuartal III 2024

Berdasarkan laporan keuangan hingga 30 September 2024, ALMI mencatat total penjualan sebesar Rp277 miliar. Sayangnya, pendapatan tersebut tidak mampu menutupi tingginya biaya operasional, sehingga perusahaan mengalami kerugian hingga Rp76 miliar.

Dengan keputusan penghentian ini, masa depan ALMI masih belum jelas. Namun, manajemen menegaskan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah mencari solusi jangka panjang melalui investor atau mitra bisnis baru untuk kembali menghidupkan operasionalnya.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait