JurnalLugas.Com – Keputusan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga acuan pada pertemuan akhir Februari 2025 diprediksi akan menjadi penentu arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, memperkirakan bahwa IHSG bisa terkoreksi ke level 6.300 hingga 6.400 apabila BI tetap mempertahankan suku bunga acuannya.
Pengaruh Kebijakan Moneter BI Terhadap Pasar Saham
Rully menegaskan bahwa kebijakan moneter BI memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas pasar saham domestik, terutama di tengah derasnya arus keluar dana asing (foreign outflow). Hal ini dipicu oleh sentimen global, khususnya dari Amerika Serikat, yang masih memberikan tekanan pada pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Kemungkinan IHSG bisa turun ke kisaran 6.300 sampai 6.400 karena kita sudah mengalami gap yang cukup besar,” jelas Rully pada Kamis, 13 Februari 2025.
Ia menambahkan bahwa saat ini satu-satunya penopang stabilitas pasar saham adalah stimulus kebijakan yang dapat diberikan oleh BI, mengingat minimnya sentimen positif dari pasar global.
Ancaman Sentimen Negatif Jika BI Tak Turunkan Suku Bunga
Rully mengkhawatirkan bahwa apabila BI tetap mempertahankan suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2025, maka potensi sentimen negatif terhadap IHSG akan semakin kuat.
“Market saat ini menaruh ekspektasi besar agar BI menurunkan suku bunga. Kalau ternyata BI tidak menurunkan, saya khawatir akan muncul sentimen yang sangat negatif,” ujarnya.
Harapan Foreign Inflow Jika Suku Bunga Turun
Menurut Rully, keputusan BI untuk menurunkan suku bunga acuan bisa menjadi sinyal positif bagi investor asing. Hal ini diharapkan mampu mengundang aliran dana asing (foreign inflow) masuk kembali ke pasar saham, terutama ke sektor perbankan.
“Saat BI menurunkan suku bunga, biasanya ada inflow yang masuk ke saham-saham perbankan,” tambahnya.
Proyeksi Suku Bunga Februari dan Maret 2025
Meski demikian, Rully memproyeksikan bahwa BI kemungkinan besar akan menurunkan suku bunga acuan pada pertemuan Februari 2025. Namun, ia juga mengingatkan bahwa jika ekspektasi pasar tersebut meleset, maka risiko koreksi IHSG sangat besar.
“Market sudah sangat price in bahwa BI akan memangkas suku bunga pekan depan. Kalau ternyata tidak, risikonya akan berbalik negatif,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai jika BI kembali menurunkan suku bunga pada pertemuan Maret 2025, dampaknya bisa lebih positif untuk pasar saham. Namun, langkah tersebut juga berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar rupiah.
“Kalau BI berani menurunkan lagi di bulan Maret, itu akan bagus untuk pasar saham. Tapi risikonya pasti ke volatilitas rupiah,” paparnya.
Kondisi Perbankan dan Likuiditas Domestik
Rully juga menyoroti bahwa saat ini perbankan nasional sedang menghadapi tantangan likuiditas akibat pengetatan kebijakan moneter sepanjang tahun 2024. BI sebelumnya menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, sementara pemerintah tetap aktif menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN).
“Kondisi ini membuat likuiditas perbankan menjadi terbatas karena terserap oleh SRBI dan SBN,” ujar Rully.
Dorongan Pelonggaran Moneter untuk Stabilitas Pasar
Dengan melihat minimnya sentimen positif dari kondisi global, Rully berharap pelonggaran kebijakan moneter oleh BI dapat memberikan dorongan positif bagi pasar saham domestik. Langkah ini diyakini dapat membantu mengurangi tekanan jual akibat arus keluar dana asing.
“Kita harapkan pelonggaran moneter bisa mendorong sentimen positif, karena dari sisi global saat ini tidak ada kabar baik,” tegasnya.
Keputusan BI terkait suku bunga acuan pada Februari 2025 akan menjadi kunci penentu pergerakan IHSG. Jika suku bunga ditahan, IHSG berpotensi terkoreksi ke level 6.300-6.400. Sebaliknya, jika BI menurunkan suku bunga, investor asing diperkirakan kembali masuk, yang akan mendorong penguatan IHSG. Di tengah ketidakpastian global, pelonggaran moneter diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar saham Indonesia.
Informasi terkini seputar pasar saham dan analisis ekonomi bisa Anda temukan di JurnalLugas.Com.






