AS Dalang Penjajahan Palestina Kini Trump Dinominasikan Hadiah Nobel Perdamaian

JurnalLugas.Com – Di tengah konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan luka mendalam rakyat Palestina akibat penjajahan Israel yang didukung penuh Amerika Serikat, dunia dikejutkan dengan kabar bahwa Presiden AS Donald Trump resmi dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian 2025.

Nominasi tersebut disampaikan oleh anggota Kongres dari Partai Republik, Buddy Carter, yang menyebut Trump sebagai aktor kunci dalam perundingan gencatan senjata antara Israel dan Iran pasca “Perang 12 Hari”. Carter menilai Trump “berperan luar biasa dan bersejarah” dalam mencegah perang lebih luas di kawasan tersebut.

Bacaan Lainnya

“Pengaruh Presiden Trump berperan penting dalam menempa kesepakatan cepat yang diyakini banyak orang mustahil,” ujar Carter dalam pernyataan tertulis yang dikutip Rabu (25/6/2025).

Namun, nominasi ini memicu kontroversi dan ironi di mata banyak pihak, mengingat peran besar Amerika Serikat termasuk di era Trump dalam mendukung penjajahan Israel atas tanah Palestina. Dukungan AS tak hanya berbentuk politik dan diplomasi, tetapi juga bantuan militer miliaran dolar yang memungkinkan Israel terus membangun pemukiman ilegal dan melakukan blokade atas Gaza.

Baca Juga  AS Klaim Raup Triliunan Dolar dari Minyak Venezuela, Trump Janjikan Ini

Pemerintah Trump dikenal luas atas kebijakan pro-Israel ekstrem, seperti pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan pemindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke kota tersebut pada 2018, yang menuai kecaman internasional. Kebijakan itu dianggap menyalakan bara konflik dan memperkeruh proses perdamaian yang adil bagi rakyat Palestina.

Dalam cuitannya di platform Truth Social, Trump mengklaim dirinya tak berharap menang Nobel meski telah beberapa kali berperan dalam penyelesaian konflik global.

“Saya tidak akan mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian, apa pun yang saya lakukan,” tulis Trump. Ia merujuk pada mediasi antara India-Pakistan, Rwanda-Kongo, hingga Serbia-Kosovo sebagai contoh kontribusinya yang menurutnya diabaikan.

Sebagai informasi, dalam sejarah AS, hanya tiga presiden yang menerima Nobel Perdamaian saat masih menjabat, yakni Theodore Roosevelt (1906), Woodrow Wilson (1919), dan Barack Obama (2009).

Baca Juga  Trump Frustasi Berat, AS Punya Militer Terkuat, Tak Perlu Bantuan Negara Lain

Sementara itu, rakyat Palestina masih hidup dalam cengkeraman pendudukan, kekerasan, dan pengusiran paksa yang dilegitimasi oleh kebijakan luar negeri AS. Dinominasikannya sosok seperti Trump ke panggung Nobel memunculkan pertanyaan besar tentang kredibilitas penghargaan itu di mata dunia yang mendambakan keadilan sejati.

Hadiah Nobel Perdamaian akan diumumkan secara resmi pada 10 Desember 2025, bertepatan dengan hari wafatnya Alfred Nobel. Dunia kini menanti apakah “perdamaian” yang dimaksud benar-benar untuk semua, termasuk rakyat Palestina yang hak-haknya selama ini diabaikan oleh kekuatan besar dunia.

🔗 Baca berita lainnya hanya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait