JurnalLugas.Com – Di tengah tekanan internasional dan meningkatnya jumlah korban jiwa di Gaza, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan menyuarakan perubahan sikap. Dalam pernyataan publik yang disampaikan melalui forum internasional di Dubai, Trump menyatakan kesediaannya untuk mendorong penyelesaian damai dan “membantu rakyat Palestina terbebas dari penjajahan yang berkepanjangan.”
“Tidak ada bangsa yang pantas hidup dalam penindasan. Palestina berhak atas masa depan yang damai dan berdaulat,” ujar Trump dalam pidatonya, Selasa (24/6) malam waktu setempat.
Pernyataan itu menjadi angin segar bagi rakyat Palestina, terlebih setelah AS di bawah pemerintahan saat ini menyetujui pemberian dana hibah sebesar US\$30 juta kepada Gaza Humanitarian Foundation (GHF), meski menuai kontroversi.
Trump, yang selama masa kepresidenannya dikenal sebagai pendukung kuat Israel, kini mulai mengubah retorikanya. Ia menyebut bahwa pendekatan lama telah gagal menghentikan kekerasan dan justru memperburuk penderitaan rakyat sipil.
“Saya tidak mengatakan Israel tidak memiliki hak untuk bertahan, tapi kita juga tidak bisa terus membiarkan warga sipil Palestina mati sia-sia di depan mata dunia,” lanjutnya.
Trump juga menyampaikan rencananya untuk menjadi mediator langsung dalam perundingan damai baru yang akan melibatkan PBB, negara-negara Arab, dan perwakilan Palestina. Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar retorika kampanye, melainkan komitmen pribadi yang ingin ia wujudkan jika kembali menjabat.
“Saya siap memimpin kesepakatan nyata. Ini bukan tentang politik, ini tentang kemanusiaan,” tegasnya.
Sejumlah analis menilai langkah Trump ini sebagai respons atas tekanan publik global dan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri AS yang dinilai tidak seimbang dalam konflik Israel-Palestina.
Jonathan Whittall, pejabat senior PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, menyambut baik sinyal perubahan ini. “Jika AS bersedia mengambil peran netral dan mendorong solusi dua negara yang adil, maka harapan rakyat Palestina bisa kembali menyala,” ujarnya singkat.
GHF, lembaga kemanusiaan yang baru saja menerima hibah dari USAID, juga menanggapi positif pernyataan Trump. “Kami siap bekerja dengan siapa pun yang benar-benar peduli terhadap penderitaan di Gaza. Rakyat Palestina tidak membutuhkan janji kosong, mereka butuh tindakan nyata,” ujar juru bicara GHF.
Sejak Israel mencabut sebagian blokade pada Mei lalu, lebih dari 400 warga Palestina dilaporkan tewas saat mencoba mendapatkan bantuan. Trump menyebut kondisi ini sebagai “bencana moral” yang harus dihentikan.
“Saya ingin melihat anak-anak Palestina bisa bersekolah tanpa rasa takut, dan keluarga mereka hidup tanpa suara bom di malam hari. Itu adalah hak dasar manusia,” ucap Trump menutup pernyataannya.
Walau belum jelas apakah dukungan Trump akan diterjemahkan menjadi kebijakan konkret, pernyataannya tersebut menjadi sorotan tajam dan membuka kembali harapan akan perdamaian di Timur Tengah.
Update dan laporan lengkap lainnya bisa diakses melalui JurnalLugas.Com.






