JurnalLugas.Com – Gelombang kekerasan sektarian kembali menerpa selatan Suriah usai dugaan penculikan seorang pedagang dari komunitas Druze memicu bentrokan besar antara milisi Druze dan kelompok bersenjata Sunni Badui. Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 13 Juli 2025, ini langsung memicu eskalasi luas hingga memancing intervensi militer Israel dua hari kemudian.
Israel, pada Selasa, 15 Juli, meluncurkan serangan udara yang diklaim sebagai langkah melindungi komunitas Druze dari serangan kelompok pro-pemerintah Suriah. Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), sedikitnya 300 orang tewas dalam konflik tersebut.
Ini merupakan lonjakan kekerasan terbesar di wilayah mayoritas Druze sejak bentrokan pada April–Mei yang menewaskan puluhan orang, serta menjadi eskalasi paling serius sejak kejatuhan rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Siapa Kaum Druze? Sejarah Singkat Komunitas Tertutup
Kaum Druze adalah kelompok minoritas etno-religius yang memiliki sejarah panjang dan misterius di Timur Tengah. Akar kepercayaan mereka berasal dari abad ke-11, saat sebuah aliran esoteris yang berakar dari Syiah Ismailiyah berkembang di bawah kekuasaan Khalifah Al-Hakim bi-Amr Allah dari Dinasti Fatimiyah.
Namun, pada tahun 1043, ajaran ini ditutup dari luar dan tidak menerima mualaf baru. Sejak itu, Druze menjadi komunitas tertutup yang sangat menjaga garis keturunan dan ajaran spiritualnya yang menggabungkan unsur-unsur filsafat Yunani, Gnostisisme, dan Neoplatonisme.
Secara geografis, pengikut Druze tersebar di Suriah, Lebanon, Israel, dan wilayah Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel. Mereka menggunakan bahasa Arab dan secara historis cenderung hidup di wilayah pegunungan demi menjaga otonomi dan keamanan dari tekanan luar.
Di Suriah, sekitar 500 ribu warga Druze tinggal di provinsi Suwayda, membentuk sekitar 3% dari populasi nasional. Sementara di Israel, komunitas Druze dikenal loyal terhadap negara dan bahkan ikut wajib militer, berbeda dari komunitas Arab lainnya.
Konflik Druze dan Pemerintah Baru Suriah
Setelah kejatuhan Assad, komunitas Druze menolak tunduk kepada pemerintahan baru yang dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa, mantan pemimpin jihad yang kini menjabat presiden. Mereka enggan meleburkan kekuatan militernya ke dalam struktur tentara nasional.
Milisi Druze lokal yang dibentuk sejak perang saudara Suriah berlangsung selama satu dekade terakhir kini menjadi kekuatan penting di selatan. Namun, ketegangan dengan pemerintah meningkat setelah muncul laporan pelanggaran HAM, termasuk eksekusi kilat terhadap warga Druze yang dilakukan oleh pasukan negara, sebagaimana diungkap SOHR.
Israel Turun Tangan: Klaim Perlindungan dan Serangan ke Damaskus
Dalam pernyataannya, pemerintah Israel menyatakan bahwa serangan pada 15 Juli adalah untuk melindungi komunitas Druze yang berada di perbatasan utara, terutama di dekat Dataran Tinggi Golan. Sehari setelahnya, Israel memperluas serangan ke Damaskus dengan menghantam markas besar Kementerian Pertahanan dan komando militer Suriah.
Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, menulis di media sosial, “Peringatan di Damaskus telah berakhir, sekarang giliran pukulan menyakitkan.”
Serangan ini merupakan eskalasi paling besar sejak Desember 2024, ketika Israel menghancurkan ratusan fasilitas militer Suriah dan merebut zona penyangga PBB di Golan.
Dunia Internasional Mengecam
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam pernyataan tertanggal 16 Juli, menyebut situasi di Suriah “mengerikan” dan menjanjikan tindakan konkret malam ini. Sementara itu, negara-negara Arab seperti Lebanon, Irak, Yordania, Qatar, Mesir, dan Kuwait secara serempak mengutuk serangan Israel.
Arab Saudi menyebut tindakan Israel sebagai “serangan terang-terangan.” Iran menilai eskalasi ini “sepenuhnya dapat diduga,” dan Turki menyebut serangan tersebut sebagai sabotase terhadap perdamaian pasca-perang.
Sekjen PBB António Guterres turut menyampaikan kecaman dan menegaskan bahwa serangan hanya akan memperparah ketegangan sektarian di Suwayda dan Damaskus.
Arah Konflik: Antara Perlindungan Minoritas dan Geopolitik
Kondisi terbaru menunjukkan bahwa stabilitas pasca-perang di Suriah masih rapuh dan rawan disulut konflik sektarian. Pemerintahan Ahmed al-Sharaa menghadapi tantangan besar dalam membangun rekonsiliasi nasional, sementara tekanan internasional dan serangan militer asing semakin memperkeruh keadaan.
Israel dinilai akan terus mendekati kelompok minoritas seperti Druze, Alawit, dan Kurdi yang merasa terpinggirkan, sebagai bagian dari strategi keamanan regionalnya.
Konflik ini menegaskan bahwa di balik kompleksitas geopolitik Timur Tengah, identitas sejarah dan spiritual komunitas seperti Druze tetap menjadi katalis utama ketegangan, bukan sekadar aktor sampingan.
Selengkapnya baca di JurnalLugas.Com






