JurnalLugas.Com — PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) menunjukkan keseriusan dalam memperluas portofolio bisnis ke sektor pertambangan global. Emiten teknologi ini tengah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat fondasi ekspansi, salah satunya melalui integrasi aset tambang di Mongolia yang dimiliki pemegang saham mayoritasnya, Poh Group.
Integrasi aset tersebut akan dilakukan melalui entitas Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR), anak usaha Poh Group, dengan mekanisme Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Skema ini dipilih agar proses akuisisi berjalan efisien tanpa menimbulkan tekanan terhadap likuiditas perseroan.
Langkah ini menjadi semakin menarik karena PGGR diketahui telah mengamankan kemitraan strategis dengan kontraktor pertambangan internasional berskala besar yang mengusung skema Engineering, Procurement and Construction plus Finance (EPC+F) di Mongolia. Kontraktor tersebut dikabarkan siap mengucurkan investasi lebih dari USD100 juta untuk mendukung operasional tambang milik Poh Group maupun NINE.
Kapasitas produksi tahunan dari proyek ini diproyeksikan melampaui 20 juta ton, menjadikannya salah satu potensi tambang berskala besar di kawasan tersebut. Sinergi ini dinilai mampu mempercepat realisasi produksi tanpa membebani neraca keuangan NINE.
Direktur Utama NINE, Nuzwan Gufron, menegaskan bahwa keberadaan mitra EPC+F tersebut memberikan keuntungan strategis bagi perusahaan. Menurutnya, melalui kemitraan ini, NINE maupun Poh Group tidak perlu menanggung belanja modal (capex), baik untuk tambang yang dimiliki langsung maupun yang dikelola melalui skema kerja sama operasi.
“Dengan dukungan mitra strategis ini, kebutuhan pendanaan operasional dapat ditangani oleh pihak EPC+F, sehingga perusahaan bisa lebih fokus pada pengembangan bisnis jangka panjang,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Lebih lanjut, Nuzwan menjelaskan bahwa calon mitra EPC+F tersebut bukan pemain baru di industri pertambangan. Perusahaan ini telah beroperasi sejak akhir 1990-an, memiliki lebih dari seribu tenaga kerja, serta mengelola aset bernilai ratusan juta dolar AS. Pengalamannya mencakup eksploitasi dan manajemen tambang di berbagai negara, termasuk Mongolia dan Indonesia.
NINE sendiri terus membuka peluang usaha baru, baik di dalam negeri maupun regional, sebagai bagian dari strategi menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham. Integrasi aset Mongolia ini juga dinilai berpotensi memberikan efek lanjutan terhadap rencana investasi Poh Group di Indonesia, baik melalui skema joint operation maupun kepemilikan langsung tambang.
Aset yang akan diintegrasikan ke dalam NINE merupakan milik penuh Poh Kay Ping dan mencakup dua konsesi tambang batu bara serta semi-soft coking coal di Mongolia. Melalui PGGR dan entitas terafiliasi lainnya, Poh Group bersama NINE berkomitmen mendorong kolaborasi pertambangan lintas negara sebagai sumber pertumbuhan baru.
Perseroan menargetkan pendaftaran rights issue terkait integrasi aset Mongolia ini paling lambat pada kuartal II-2026. Manajemen memastikan bahwa proses tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap posisi kas perusahaan, mengingat tidak ada pembayaran tunai dalam akuisisi aset tersebut.
“Tidak ada biaya akuisisi yang dibebankan ke kas perseroan karena aset dimasukkan melalui mekanisme PMHMETD,” pungkas Nuzwan.
Dengan strategi yang terukur dan dukungan mitra global berpengalaman, langkah NINE ini dinilai dapat memperkuat posisinya di industri pertambangan sekaligus meningkatkan daya tarik perusahaan di mata investor pasar modal.
Baca berita bisnis dan ekonomi lainnya di: https://jurnalluguas.com






