JurnalLugas.Com — Suasana ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat belajar berubah tegang di sebuah SMK swasta di wilayah Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo. Seorang guru berinisial PU (35) diduga menjadi korban penganiayaan oleh muridnya sendiri saat kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung, Jumat (10/4/2026).
Peristiwa ini bukan sekadar insiden kekerasan biasa, melainkan cerminan serius tentang relasi yang mulai retak antara peserta didik dan tenaga pendidik di lingkungan sekolah.
Kronologi Kejadian di Dalam Kelas
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kejadian bermula saat guru PU mengajar di kelas XI jurusan teknik sepeda motor. Kondisi kelas yang gaduh membuat korban beberapa kali menegur siswa agar kembali fokus.
Namun teguran itu diduga memicu emosi salah satu siswa berinisial UH. Dengan alasan meminta izin ke kamar mandi, UH mendekati meja guru. Tanpa diduga, ia justru melayangkan pukulan ke arah wajah korban.
Akibatnya, guru tersebut mengalami luka lebam di bagian wajah dan harus mendapatkan penanganan.
Polisi Turun Tangan, Libatkan Pendampingan Anak
Kasus ini kini ditangani oleh Satreskrim Polres Situbondo. Aparat memastikan proses hukum tetap berjalan dengan mempertimbangkan status pelaku yang masih di bawah umur.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Situbondo, AKP Agung Hartawan, menegaskan pihaknya telah menerima laporan dan sedang melakukan pendalaman.
“Kami masih melakukan klarifikasi terhadap pihak terkait. Karena terlapor masih anak, penanganan akan melibatkan pendampingan dari pihak terkait,” ujarnya.
Dalam prosesnya, kepolisian juga akan berkoordinasi dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Jember guna memastikan pendekatan hukum yang sesuai dengan sistem peradilan anak.
Cermin Rapuhnya Relasi di Sekolah
Peristiwa ini memantik keprihatinan luas. Praktisi pendidikan menilai insiden kekerasan terhadap guru menunjukkan adanya pergeseran nilai disiplin dan penghormatan di lingkungan sekolah.
Seorang pengamat pendidikan yang enggan disebutkan namanya menilai, kejadian ini tidak bisa dilihat sebagai tindakan individu semata.
“Ini alarm keras. Ada yang tidak beres dalam komunikasi di kelas, juga dalam pembinaan karakter siswa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sekolah perlu memperkuat pendekatan emosional, bukan hanya akademik, agar konflik tidak berkembang menjadi kekerasan.
Perlu Sinergi Orang Tua dan Sekolah
Kasus ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua. Pendidikan karakter tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada guru di ruang kelas.
Pendampingan psikologis terhadap siswa, terutama yang menunjukkan gejala agresivitas, dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Di sisi lain, perlindungan terhadap tenaga pendidik juga harus diperkuat agar mereka dapat menjalankan tugas tanpa rasa takut.
Kasus ini kini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut. Publik menanti langkah tegas sekaligus bijak dari aparat dan institusi pendidikan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi di masa depan.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(BW)






