JurnalLugas.Com — Pemerintah Kota Kediri bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa puluhan siswa sekolah dasar. Hasil awal investigasi mengarah pada temuan bakteri berbahaya serta indikasi pelanggaran prosedur dalam pengolahan makanan.
Peristiwa ini menjadi alarm penting bagi keberlangsungan program prioritas tersebut, sekaligus memicu evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan pangan yang diterapkan di lapangan.
Temuan Awal: Kontaminasi E.coli
Kepala Bappeda Kota Kediri sekaligus Sekretaris Satgas Percepatan MBG, Ferry Djatmiko, mengungkapkan bahwa pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya bakteri Escherichia coli (E.coli) dalam sampel makanan yang dikonsumsi siswa.
“Indikasi ini mengarah pada makanan yang tidak layak konsumsi. Tim langsung turun melakukan observasi ke dapur layanan gizi,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Kontaminasi E.coli umumnya terjadi akibat sanitasi yang buruk atau proses pengolahan makanan yang tidak higienis, sehingga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
Puluhan Siswa Terdampak
Insiden ini dilaporkan terjadi pada Rabu (22/4), melibatkan tiga sekolah dasar di wilayah Kecamatan Pesantren, yakni SDN Ketami 1, SDN Ketami 2, dan SDN Tempurejo 1.
Sebanyak 69 siswa mengalami gejala seperti:
- mual
- muntah
- pusing
- demam
Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi para siswa kini telah membaik. Tidak ada kasus yang memerlukan perawatan inap, dan pemantauan kesehatan terus dilakukan oleh puskesmas setempat.
Pelanggaran SOP Terungkap
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah Kota Kediri, Armeityansyah Wahyudi Putra, mengungkap adanya ketidaksesuaian prosedur dalam proses pengolahan makanan.
“Waktu pengolahan tidak mengikuti ketentuan yang berlaku. Selain itu, uji organoleptik tidak dilakukan secara lengkap di setiap tahap,” jelasnya.
Padahal, uji organoleptik merupakan langkah penting untuk memastikan kualitas makanan, yang seharusnya dilakukan:
- setelah makanan dimasak
- sebelum distribusi
- saat makanan diterima
Fakta di lapangan menunjukkan ada tahapan yang terlewat, membuka celah terhadap penurunan kualitas makanan.
Operasional Dihentikan Sementara
Sebagai langkah cepat, operasional SPPG Tempurejo dihentikan sementara. Distribusi makanan untuk program MBG dialihkan ke dapur lain guna memastikan layanan tetap berjalan tanpa mengorbankan keamanan.
Langkah ini sekaligus memberi ruang evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan pelaksanaan SOP di lapangan.
Koordinasi Nasional dan Evaluasi Ketat
Pemerintah Kota Kediri juga berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperkuat sistem pengawasan. Pengetatan SOP monitoring dan evaluasi menjadi fokus utama ke depan.
“Program ini tetap baik dan penting. Namun pengawasan harus diperketat agar kejadian serupa tidak terulang,” tegas Ferry.
Proses Hukum Mulai Diselidiki
Di sisi lain, aparat kepolisian turut turun tangan. Kasatreskrim Polres Kediri Kota, AKP Achmad Elyasarif Martadinata, menyatakan pihaknya tengah mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak.
“Fokus kami saat ini memastikan kondisi korban. Namun jika ditemukan unsur pelanggaran hukum, akan kami tindaklanjuti,” ujarnya.
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Penanganan telah dilakukan secara cepat dan melibatkan berbagai instansi terkait, mulai dari tenaga kesehatan hingga aparat penegak hukum.
Baca berita lainnya di: https://JurnalLugas.Com
(SF)






