JurnalLugas.Com – Posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten mengusung politik luar negeri bebas aktif kembali mendapat perhatian di panggung internasional.
Wacana Presiden Prabowo Subianto untuk membantu membuka ruang dialog antara Korea Selatan dan Korea Utara dinilai menjadi sinyal bahwa kepercayaan dunia terhadap diplomasi Indonesia terus menguat.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono menilai kesiapan Indonesia untuk memfasilitasi komunikasi antara dua negara di Semenanjung Korea bukan sekadar langkah simbolis, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang Indonesia dalam mendukung penyelesaian konflik melalui jalur damai.
Menurutnya, setiap kontribusi Indonesia di forum internasional harus tetap berpijak pada kepentingan nasional, menghormati kedaulatan negara lain, serta selaras dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang telah menjadi fondasi diplomasi Indonesia sejak lama.
“Selama berlandaskan kepentingan nasional dan politik luar negeri bebas aktif, kontribusi Indonesia tetap relevan dalam menjaga stabilitas kawasan maupun dunia,” ujar Dave.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa peran Indonesia tidak diarahkan untuk menjadi pihak yang mencampuri urusan negara lain, melainkan sebagai mitra yang dipercaya dalam membuka ruang komunikasi ketika dibutuhkan oleh para pihak yang bersengketa.
Dalam pandangan Dave, kepercayaan yang diberikan kepada Indonesia merupakan modal diplomatik yang tidak datang secara instan.
Reputasi tersebut dibangun melalui konsistensi Indonesia dalam mengedepankan penyelesaian sengketa secara damai, penghormatan terhadap hukum internasional, serta hubungan yang saling menghormati antarnegara.
Karena itu, ia menilai momentum tersebut perlu dijaga dengan langkah diplomasi yang hati-hati dan terukur.
Setiap perkembangan selanjutnya tetap harus dilakukan melalui komunikasi resmi antarpemerintah dengan mempertimbangkan dinamika keamanan kawasan Asia Timur serta kepentingan strategis Indonesia.
Dave juga mengingatkan bahwa pernyataan Presiden Prabowo lebih tepat dipahami sebagai bentuk kesiapan Indonesia apabila diminta membantu proses dialog, bukan sebagai pengumuman dimulainya misi diplomatik tertentu.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar Indonesia tetap mempertahankan posisi sebagai negara yang netral, dipercaya, dan mampu diterima oleh seluruh pihak tanpa memunculkan kesan berpihak pada salah satu kepentingan geopolitik.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Presiden Korea Selatan menyampaikan harapan agar Indonesia dapat membantu membuka jalur komunikasi dengan Korea Utara.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri pertemuan bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Pusat dan Daerah di Istana Negara, Jakarta.
“Presiden Korea Selatan meminta saya membantu membuka semacam dialog dengan Korea Utara,” ungkap Presiden Prabowo.
Pernyataan tersebut langsung menarik perhatian karena menunjukkan besarnya kepercayaan terhadap posisi Indonesia di tengah dinamika politik kawasan Asia Timur yang selama puluhan tahun masih dibayangi ketegangan antara Seoul dan Pyongyang.
Selama ini, Indonesia dikenal memiliki hubungan diplomatik dengan kedua negara.
Posisi tersebut memberikan keuntungan strategis karena Indonesia dapat menjaga komunikasi dengan seluruh pihak tanpa terikat pada blok politik tertentu.
Pengamat hubungan internasional menilai, apabila upaya dialog benar-benar terealisasi di masa mendatang, Indonesia berpotensi memainkan peran sebagai fasilitator yang membantu membangun kepercayaan awal di antara kedua negara.
Meski demikian, keberhasilan diplomasi tetap bergantung pada kesiapan Korea Selatan dan Korea Utara untuk membuka ruang komunikasi yang lebih luas.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, kehadiran negara-negara yang mampu menjembatani dialog damai semakin dibutuhkan.
Indonesia dinilai memiliki rekam jejak yang cukup kuat dalam berbagai forum internasional, mulai dari ASEAN, Gerakan Non-Blok, hingga forum multilateral lainnya.
Langkah yang disampaikan Presiden Prabowo sekaligus memperlihatkan bahwa politik luar negeri bebas aktif masih menjadi instrumen penting dalam menjaga posisi Indonesia sebagai mitra strategis yang dipercaya masyarakat internasional.
Baca berita nasional, diplomasi, dan geopolitik terbaru lainnya hanya di JurnalLugas.Com
(Catur)






