JurnalLugas.Com — Kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menyisakan trauma bagi sejumlah siswa dan keluarga.
Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan evaluasi dan perbaikan tata kelola akan dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Kepala BGN Sudaryono mengakui dampak kasus tersebut tidak hanya dirasakan siswa yang mengalami keracunan, tetapi juga keluarga mereka.
Menurutnya, penanganan awal saat ini difokuskan pada pemulihan kondisi para siswa. Setelah proses pengobatan selesai, BGN akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan untuk memastikan penanganan lanjutan.
“Saya memahami trauma siswa dan keluarganya. Kejadian seperti ini tidak boleh terulang,” kata Sudaryono, Rabu 19 Agustus 2026.
Hasil pemeriksaan awal BGN mengarah pada dugaan kelalaian di Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) yang bertugas menyediakan makanan MBG. Salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan penyimpanan ikan sebagai bahan pangan.
Ikan tersebut disebut tidak disimpan dalam freezer sebagaimana seharusnya. Kondisi itu kemudian menjadi bagian penting dalam investigasi terhadap sumber masalah makanan yang dikonsumsi para siswa.
BGN langsung menutup dapur SPPG untuk kepentingan pemeriksaan dan mencopot kepala SPPG yang dianggap bertanggung jawab. Bahkan, status kepegawaiannya sebagai PPPK disebut sedang dipertimbangkan untuk dihentikan.
“Dapur sudah kami tutup dan kepala SPPG dicopot untuk proses investigasi,” ujar Sudaryono.
BGN juga menggandeng kepolisian dalam penyelidikan. Untuk dugaan adanya unsur pidana, Sudaryono menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.
Di sisi lain, BGN mengingatkan penerima MBG agar tidak membawa makanan yang telah dibagikan pulang untuk dikonsumsi beberapa jam kemudian.
Menurut Sudaryono, makanan yang terlihat masih layak belum tentu aman setelah terlalu lama berada di luar kondisi penyimpanan yang sesuai.
Ia mencontohkan makanan yang dibagikan pagi hari tetapi baru dimakan pada malam hari. Jarak waktu yang terlalu panjang dapat meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri.
Kasus di SMAN 1 Berastagi menjadi peringatan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan, tetapi juga disiplin dalam pengolahan, penyimpanan dan distribusi. Evaluasi terhadap SPPG menjadi penting agar keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama.
Baca berita nasional dan perkembangan program MBG lainnya di JurnalLugas.Com.
(Soefriyanto)






