JurnalLugas.Com — Mahkamah Konstitusi (MK) membuat perubahan penting dalam aturan paten obat. Melalui Putusan Nomor 255/PUU-XXIII/2025, MK mengabulkan sebagian permohonan uji materi UU Nomor 65 Tahun 2024 tentang Paten.
Putusan tersebut membuka kembali ruang perlindungan bagi masyarakat dari praktik paten yang dinilai berpotensi memperpanjang monopoli terhadap obat yang sebenarnya sudah dikenal.
MK menyatakan penghapusan ketentuan mengenai discovery dalam Pasal 4 huruf f UU Paten bertentangan dengan UUD 1945 secara bersyarat. Ketentuan tersebut kembali diberlakukan dengan sejumlah pemaknaan.
Salah satu poin pentingnya adalah temuan berupa penggunaan baru terhadap produk yang sudah ada atau bentuk baru dari senyawa yang telah dikenal tidak dapat begitu saja dijadikan objek paten apabila tidak menghasilkan peningkatan khasiat yang bermakna.
Hakim Konstitusi M. Guntur mengatakan larangan second medical use dapat memberikan perlindungan lebih kuat bagi industri obat generik nasional.
Menurut MK, ketentuan itu juga penting untuk memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat sejak proses pendaftaran paten hingga ketersediaan obat di pasaran.
Putusan ini sekaligus menjadi perhatian bagi industri farmasi karena memberikan batas yang lebih tegas terhadap upaya mendapatkan paten atas inovasi yang dianggap tidak memberikan peningkatan manfaat secara signifikan.
Para pemohon sebelumnya menilai penghapusan Pasal 4 huruf f dapat melemahkan perlindungan masyarakat. Mereka khawatir celah tersebut dimanfaatkan untuk mengajukan paten berkualitas rendah yang pada akhirnya memperpanjang penguasaan pasar oleh korporasi tertentu.
Dengan putusan MK, aturan paten kini kembali menempatkan kepentingan kesehatan publik sebagai salah satu pertimbangan penting. Dampaknya diharapkan dapat menciptakan persaingan yang lebih sehat sekaligus memperluas peluang masyarakat memperoleh obat dengan harga yang lebih terjangkau.
Bagi rakyat kecil, isu ini bukan sekadar persoalan hukum paten. Ketentuan tersebut berkaitan langsung dengan seberapa mudah obat dibeli dan seberapa besar ruang industri generik untuk menyediakan alternatif pengobatan yang lebih terjangkau.
Baca berita terbaru dan informasi aktual lainnya di JurnalLugas.Com.
(Soefriyanto)






