JurnalLugas.Com – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan bahwa sebanyak 14 emiten dari sektor keuangan sedang menunggu untuk mencatatkan surat utang mereka. Berdasarkan data per 31 Mei 2024, sektor keuangan mendominasi dengan porsi sebesar 43,8 persen dari total pencatatan efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS).
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa dari 32 penerbit EBUS, 14 di antaranya berasal dari sektor keuangan. Hal ini menunjukkan dominasi sektor ini dalam pencatatan surat utang di BEI.
Secara historis, jumlah pencatatan EBUS di BEI mencapai Rp42,8 triliun. Jumlah ini dicapai melalui 41 emisi utang yang diterbitkan oleh 28 perusahaan. Sektor keuangan tidak hanya menunjukkan jumlah emiten yang banyak, tetapi juga menunjukkan peran signifikan dalam pembiayaan melalui surat utang.
Selain sektor keuangan, sektor infrastruktur menempati posisi kedua dengan enam perusahaan yang akan mencatatkan surat utang mereka. Diikuti oleh tiga emiten dari sektor bahan baku.
Sektor konsumer siklikal dan nonsiklikal, serta sektor energi, masing-masing menyumbang dua perusahaan. Sedangkan sektor industri, properti real-estate, dan teknologi masing-masing diwakili oleh satu emiten.
Kondisi ini diprediksi akan terus berlanjut. Dari 32 penerbit yang sedang antre, terdapat 40 surat utang yang siap untuk diterbitkan. Hal ini menunjukkan potensi pertumbuhan yang terus berlanjut dalam pencatatan EBUS di BEI, memperkuat peran pasar modal Indonesia dalam pembiayaan perusahaan.






