Konflik dengan PDIP Jokowi dan Gibran Harus Gabung Partai Politik Mengapa?

JurnalLugas.Com – Keputusan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) untuk memecat Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, dari keanggotaan partai, membawa dampak signifikan dalam perjalanan politik keduanya. Menurut Peneliti Senior Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli, langkah berikutnya bagi Jokowi dan Gibran adalah bergabung dengan partai politik baru. Jika tidak, pengaruh dan popularitas mereka diprediksi akan menurun secara perlahan.

Jokowi dan Gibran dalam Masa Transisi Politik

Lili Romli menegaskan, bagi Jokowi yang baru saja mengakhiri masa jabatan 10 tahunnya pada Oktober lalu, dan Gibran yang tengah menikmati masa kejayaannya bersama Koalisi Indonesia Maju (KIM Plus), keputusan untuk bergabung dengan partai politik menjadi langkah strategis. Meskipun saat ini mereka belum terlihat memerlukan kendaraan politik, situasi ini tidak akan bertahan lama.

Bacaan Lainnya

“Jika Jokowi ingin tetap berperan dalam politik praktis, masuk partai politik adalah keharusan. Jika tidak, tinggal menunggu waktu hingga pengaruh dan popularitasnya menyusut,” ujar Lili pada Sabtu (7/12/2024).

Baca Juga  Kangen Prabowo Jokowi Makan Malam di Kertanegara Jakarta

Menghadapi Pemilu 2029: Perubahan Peta Politik

Pemilu 2029 diprediksi akan membawa perubahan besar dalam peta politik nasional. Menurut Lili, tanpa dukungan partai politik, peluang Jokowi dan Gibran untuk tetap relevan di panggung politik akan semakin kecil. Hal ini berlaku khususnya bagi Gibran, yang berpotensi menjadi salah satu tokoh kunci dalam kontestasi politik nasional mendatang.

“Gibran mungkin tak lagi bisa maju pada Pemilu 2029 tanpa status kader partai. Pada Pemilu 2024, dia mendapatkan keistimewaan karena statusnya sebagai anak presiden dengan tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi,” tambah Lili.

Dengan demikian, bergabung dengan partai politik baru secepat mungkin adalah langkah logis untuk memastikan posisi strategis di masa depan.

Konflik dengan PDIP

Pemecatan Jokowi dan keluarganya dari PDIP dipicu oleh keputusan mereka untuk mendukung pasangan capres-cawapres yang tidak diusung PDIP pada Pemilu 2024. Kala itu, PDIP mendukung Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, sementara Jokowi dan Gibran memilih mendukung Prabowo Subianto dan dirinya sendiri sebagai cawapres.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa keputusan ini mencerminkan perbedaan pandangan yang signifikan antara Jokowi dan partai. “Jokowi dan keluarganya sudah tidak lagi menjadi bagian dari PDIP,” kata Hasto pada Rabu (4/12/2024).

Baca Juga  Jokowi Gabung PAN? Eko Patrio Berpeluang 1000 Persen

Langkah Politik ke Depan

Bergabung dengan partai politik baru menjadi langkah penting bagi Jokowi dan Gibran untuk tetap memiliki panggung politik yang kuat. Bagi Gibran khususnya, hal ini menjadi kunci jika ia berencana maju dalam Pemilu 2029. Sementara Jokowi, meskipun kini masih menikmati pengaruh dari keberhasilan 10 tahun pemerintahannya, lambat laun akan membutuhkan dukungan struktural dari partai untuk menjaga relevansinya.

Masa depan politik Jokowi dan Gibran sangat bergantung pada keputusan mereka untuk segera mencari kendaraan politik baru. Dengan bergabung lebih awal, mereka dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan peta politik yang tidak terhindarkan pada Pemilu 2029.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait