Jusuf Kalla Pemimpin Harus Cepat dan Tepat Saat Krisis Bukan Asal Berani

JurnalLugas.Com – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), menekankan pentingnya keberanian dan ketepatan dalam mengambil keputusan saat negara dilanda krisis. Dalam pernyataannya pada Sabtu, 24 Mei 2025, JK menyampaikan bahwa seorang pemimpin sejati harus mampu bertindak cepat tanpa mengabaikan kedalaman analisis atas masalah yang dihadapi.

“Pemimpin harus segera membuat kebijakan yang cepat dan tidak keliru. Kalau salah langkah, masalah negara tidak akan selesai,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

JK menjelaskan bahwa kecepatan dalam pengambilan keputusan bukan berarti tindakan yang serampangan. Sebaliknya, hal itu harus didasarkan pada pemahaman menyeluruh terhadap krisis yang tengah berlangsung. Menurutnya, kebijakan yang baik berakar dari ketajaman analisis dan pengetahuan yang utuh.

“Kebijakan yang berani itu penting, tetapi harus tetap tepat sasaran,” tegasnya.

Baca Juga  Jusuf Kalla 4 Pulau Sengketa Milik Aceh Bukan Sumut Ini Alasannya

Sebagai ilustrasi, JK menyinggung kebijakan Tarif Trump yang diberlakukan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menilai, meskipun kebijakan tersebut tampak berani, namun justru keliru karena tidak didasari pemahaman menyeluruh terhadap dampaknya.

“Tanpa sadar, kebijakan itu malah merugikan rakyat dan pelaku usaha di AS karena harga barang impor jadi mahal,” katanya.

Dalam menghadapi berbagai krisis global yang kini tengah melanda, JK mengingatkan bahwa seorang pemimpin perlu tampil sebagai sosok yang mampu menenangkan rakyat. Ia mengibaratkan seorang pemimpin sebagai nahkoda kapal yang harus tetap tenang saat menghadapi badai di tengah lautan.

“Saat badai menerpa, pemimpin harus fokus mencari solusi agar kapalnya tidak tenggelam,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menyebut bahwa kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan rakyat menjadi kunci penting dalam kepemimpinan di masa sulit. Seorang pemimpin, menurut JK, wajib mengendalikan emosi dan tidak gegabah dalam mengambil langkah.

Pengalaman panjang JK dalam menangani berbagai konflik seperti di Poso, Ambon, dan Aceh, serta krisis nasional pada 1998 dan 2008, menjadi bukti pentingnya kebijakan yang matang dan strategis. Ia menyebut kebijakan menaikkan harga BBM dan minyak tanah serta penghapusan subsidi pernah dilakukan tanpa memicu gejolak besar karena pemilihan waktu yang tepat.

Baca Juga  Gus Miftah Belajar Ikhlas dari Jokowi Pelajaran Kehidupan dari Seorang Pemimpin

“Saat itu kenaikan diumumkan menjelang puasa. Masyarakat lebih memilih menahan diri daripada turun ke jalan. Inilah pentingnya strategi dalam pengambilan kebijakan,” tuturnya.

Pandangan dan pengalaman JK menjadi pengingat bahwa kepemimpinan bukan hanya soal keberanian mengambil risiko, melainkan juga soal ketepatan membaca situasi dan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat luas.

Baca informasi selengkapnya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait