JurnalLugas.Com – Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh, yang resmi beroperasi penuh sejak 2 Oktober 2023, kini tengah menjadi sorotan tajam publik. Bukan soal kecepatannya lagi, tetapi mengenai rincian pembiayaan dan besarnya utang yang menyelimuti proyek strategis nasional ini.
Berdasarkan laporan audit RSM tahun 2022, total biaya pembangunan KCJB membengkak menjadi USD7,26 miliar atau sekitar Rp119,79 triliun (kurs Rp16.500 per USD). Angka tersebut sudah termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar USD1,21 miliar atau sekitar Rp19,96 triliun.
Skema Pembiayaan dan Struktur Kepemilikan
KCJB dikembangkan melalui skema business to business (B2B) antara konsorsium Indonesia dan Tiongkok. Komposisinya terdiri atas 75 persen pendanaan dari pinjaman luar negeri dan 25 persen dari modal ekuitas para pemegang saham.
Pinjaman utama berasal dari China Development Bank (CDB), sementara pengelola proyek, PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), memiliki struktur kepemilikan gabungan:
- 60 persen saham dipegang oleh konsorsium BUMN Indonesia, yakni PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
- 40 persen sisanya dimiliki oleh konsorsium Tiongkok, Beijing Yawan HSR Co. Ltd.
PSBI sendiri merupakan gabungan dari empat BUMN besar:
- PT Kereta Api Indonesia (Persero) – 58,53%
- PT Wijaya Karya (Persero) Tbk – 33,36%
- PT Jasa Marga (Persero) Tbk – 7,08%
- PT Perkebunan Nusantara I – 1,03%
Seorang pengamat infrastruktur yang enggan disebut namanya mengatakan, “Struktur B2B ini memang mengurangi beban fiskal negara secara langsung, tapi konsekuensi finansialnya tetap besar bagi BUMN yang terlibat.”
Rincian Pinjaman Awal dari CDB
Mengacu pada laporan AidData, total investasi awal senilai USD6,05 miliar didanai sesuai proporsi 75:25. CDB memberikan dua fasilitas pinjaman besar tanpa jaminan negara (sovereign guarantee):
- Fasilitas pertama: USD2,74 miliar (denominasi dolar AS) untuk konsorsium Indonesia dengan tenor 40 tahun, masa tenggang 10 tahun, dan bunga 2 persen.
- Fasilitas kedua: USD1,83 miliar (dalam Yuan) untuk konsorsium Tiongkok dengan tenor serupa, namun bunga 3,46 persen.
Menurut sumber internal PSBI, “Struktur pembiayaan jangka panjang ini cukup ringan di awal, tapi beban bunga akan terasa setelah masa tenggang berakhir.”
Tambahan Utang Akibat Pembengkakan Biaya
Kenaikan biaya sebesar USD1,21 miliar juga ditutup dengan pola serupa: 75 persen utang dan 25 persen ekuitas. Porsi ekuitas dari PSBI dipenuhi lewat Penyertaan Modal Negara (PMN), sedangkan sisanya dibiayai utang baru dari CDB.
Dalam laporan PT KAI per 30 Juni 2025, disebutkan PSBI meneken perjanjian pinjaman tambahan (cost overrun loan) pada 31 Januari 2024 senilai USD542,7 juta. Rinciannya:
- Fasilitas A: USD325,62 juta dengan bunga 3,3 persen per tahun
- Fasilitas B: USD217,08 juta dalam Yuan dengan bunga 3,2 persen per tahun
Jika seluruh utang digabung, total kewajiban konsorsium BUMN (PSBI) mencapai USD3,26 miliar atau sekitar Rp54 triliun. Estimasi beban bunga tahunannya mencapai USD74,5 juta atau Rp1,2 triliun.
Kondisi Keuangan Terbaru PSBI
Masih dari laporan PT KAI, total kewajiban PSBI per Juni 2025 tercatat Rp18,93 triliun, dengan total aset Rp27,39 triliun. Meski masih membukukan kerugian Rp1,62 triliun, kinerja tersebut menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan akhir 2024 yang merugi hingga Rp4,19 triliun.
Ekonom transportasi dari UI, Dr. R. S. Anindya, menilai, “Kereta cepat Whoosh akan memberikan dampak ekonomi jangka panjang, namun keberlanjutan finansialnya bergantung pada optimalisasi penumpang dan efisiensi operasi.”
Proyek KCJB Whoosh menjadi tonggak penting modernisasi transportasi nasional. Namun di balik kecepatan 350 km/jam yang membanggakan itu, tersimpan beban utang besar yang menuntut manajemen profesional dan efisiensi jangka panjang.
Lebih banyak analisis ekonomi dan kebijakan publik bisa dibaca di JurnalLugas.Com.






