JurnalLugas.Com — Jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, terus bertambah seiring proses pencarian yang masih berlangsung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapsel mencatat sementara 46 orang meninggal dunia, 52 warga hilang, dan 38 lainnya mengalami luka berat.
Kepala Pelaksana BPBD Tapsel, J. Siregar, menjelaskan bahwa pembaruan data dilakukan setiap beberapa jam karena kondisi di lapangan berubah cepat. “Tim terus meng-update perkembangan dampak bencana yang melanda sejumlah wilayah,” ujarnya, Minggu, 30 November 2025.
Batangtoru Jadi Wilayah Paling Parah
Data sementara menunjukkan sebaran korban meninggal tersebar di berbagai kecamatan, dengan rincian:
- Sipirok: 1 orang
- Angkola Barat: 2 orang
- Batangtoru: 31 orang
- Angkola Sangkunur: 9 orang
- Angkola Selatan: 2 orang
- Marancar: 1 orang
Kecamatan Batangtoru menjadi wilayah paling parah terdampak, menyumbang lebih dari separuh total korban meninggal dunia.
4.766 Warga Mengungsi ke Lokasi Aman
Selain korban jiwa, sedikitnya 4.766 warga terpaksa mengungsi karena rumah, jalan, fasilitas umum, dan jaringan air bersih rusak berat. Para pengungsi kini tersebar di beberapa titik, seperti:
- Rumah keluarga dan kerabat
- Madrasah Purba Tua Sipirok
- Kantor kecamatan
- Sopo Daganak
- Sejumlah lokasi yang dijadikan pos pengungsian darurat
Pendataan kerusakan material masih dilakukan. Laporan awal menunjukkan banyaknya rumah hancur, irigasi jebol, sawah tertimbun lumpur, hingga sekolah dan fasilitas publik yang rusak berat.
Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor
Bencana terjadi setelah hujan deras berintensitas tinggi mengguyur wilayah Tapsel sejak Senin, 24 November 2025, sekitar pukul 07.00 WIB. Debit air sungai meningkat drastis dan membawa material lumpur serta bebatuan ke permukiman warga.
BPBD menyebut bencana ini berdampak pada 12 dari 15 kecamatan di Tapanuli Selatan, meliputi:
Sipirok, Marancar, Batangtoru, Angkola Barat, Muara Batangtoru, Angkola Sangkunur, Angkola Selatan, Sayur Matinggi, Batang Angkola, Tano Tombangan Angkola, Angkola Muaratais, dan Arse.
Pencarian Terus Dilakukan, Korban Bisa Bertambah
Hingga hari ini, tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, dan relawan masih menyisir lokasi terdampak untuk menemukan warga yang hilang. Bantuan darurat berupa logistik, air bersih, pakaian, hingga layanan kesehatan mulai disalurkan ke pengungsian yang paling membutuhkan.
Pemerintah daerah mengimbau warga di kawasan rawan banjir dan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan karena cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung. Potensi penambahan korban pun masih terbuka.
Baca berita lainnya bisa dibaca di: JurnalLugas.Com






