JurnalLugas.Com — Peristiwa tanah amblas yang muncul di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, terus menjadi perhatian masyarakat. Lubang besar yang terbentuk di kawasan tersebut sempat disebut sebagai sinkhole. Namun, penjelasan ilmiah menyebutkan kejadian itu lebih tepat dikategorikan sebagai longsoran alam yang berkembang secara bertahap.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, menyampaikan bahwa struktur geologi di Ketol didominasi batuan tufa yang bersifat rapuh dan memiliki kekuatan rendah.
Adrin menjelaskan, kondisi batuan yang mudah lapuk tersebut membuat lereng sangat rentan mengalami pengikisan hingga runtuh ketika terpapar air atau getaran.
Indikasi Lembah Sudah Terlihat Bertahun-tahun
Berdasarkan telaah citra satelit Google Earth, kawasan Ketol sebenarnya telah menunjukkan adanya cekungan menyerupai lembah kecil sejak lebih dari satu dekade lalu. Seiring waktu, proses erosi dan longsoran terus bekerja secara alami hingga membentuk rongga yang semakin lebar.
Menurut Adrin, perubahan bentuk lahan ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika geologi jangka panjang. Lubang yang terlihat saat ini merupakan hasil akumulasi proses tersebut.
Gempa dan Hujan Jadi Pemicu Percepatan
Selain faktor batuan, gempa bumi juga berperan mempercepat ketidakstabilan lereng. Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Aceh Tengah pada 2013 diduga melemahkan struktur tanah di kawasan tersebut.
Curah hujan tinggi kemudian menjadi pemicu lanjutan. Ketika air hujan meresap ke lapisan tufa, daya ikat tanah menurun drastis. Lereng yang sudah curam akibat longsoran lama pun semakin mudah runtuh.
Ia menilai, hujan lebat bukan penyebab tunggal, tetapi berfungsi sebagai faktor pemicu yang mempercepat proses longsoran yang sudah berlangsung lama.
Peran Irigasi dan Aliran Air Tanah
Aktivitas manusia juga ikut memengaruhi kondisi lereng. Adrin menyoroti keberadaan saluran irigasi perkebunan yang memungkinkan air mengalir bebas dan masuk ke dalam tanah.
Air permukaan yang terus meresap akan meningkatkan kejenuhan lapisan tufa. Selain itu, terdapat dugaan adanya aliran air tanah di perbatasan lapisan lahar yang lebih padat di bagian bawah tebing dan batuan tufa rapuh di atasnya. Penggerusan pada kaki lereng ini dapat menyebabkan bagian atas kehilangan penyangga dan runtuh secara perlahan.
Fenomena Serupa di Wilayah Lain
Adrin menyebut, kondisi geologi seperti di Ketol tidak bersifat unik. Daerah lain dengan batuan gunung api muda memiliki potensi serupa. Ia mencontohkan Ngarai Sianok di Sumatera Barat yang terbentuk melalui proses geologi panjang dan berkaitan dengan aktivitas Sesar Besar Sumatera.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kajian saat ini masih bersifat awal dan memerlukan penelitian lapangan yang lebih mendalam untuk memastikan detail struktur bawah permukaan.
Pentingnya Mitigasi dan Kewaspadaan Warga
Untuk memperjelas kondisi geologi, BRIN mendorong penelitian lanjutan menggunakan metode geofisika seperti survei geolistrik, seismik refleksi, dan microtremor. Metode tersebut dinilai mampu memetakan potensi rekahan serta zona rawan longsor.
Adrin juga mengingatkan pentingnya langkah mitigasi, mulai dari pengendalian air permukaan, pembaruan peta kerentanan gerakan tanah, hingga penetapan zona bahaya. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda awal longsor, seperti retakan tanah atau amblesan kecil.
“Memahami proses geologinya menjadi kunci utama agar upaya mitigasi bisa dilakukan lebih tepat dan risiko dapat ditekan,” ujarnya.
Baca berita lainnya JurnalLugas https://JurnalLugas.Com






