JurnalLugas.Com — Langkah Indonesia menuju kemandirian pangan memasuki babak baru. Andi Amran Sulaiman menegaskan tekad besar menjadikan Indonesia sebagai kekuatan pangan dunia bukan sekadar swasembada, tetapi juga pemain global yang disegani.
Pernyataan itu disampaikan saat meninjau Gudang Bulog Panaikang di Makassar, dalam agenda bersama jajaran Perum Bulog. Di tengah kunjungan tersebut, ia menekankan pentingnya persatuan nasional sebagai fondasi utama membangun ketahanan pangan jangka panjang.
“Kita ingin Indonesia tidak hanya bertahan, tapi menjadi superpower dalam waktu relatif singkat,” ujarnya.
Ketahanan Pangan Menguat, Fondasi Kemandirian Terbangun
Menurut Amran, kondisi Indonesia saat ini menunjukkan tren yang menguat di sektor strategis. Tidak hanya pangan, tetapi juga air, energi, hingga kecukupan protein nasional.
Ia melihat arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto semakin terfokus pada kemandirian. Hal ini dinilai menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk keluar dari ketergantungan impor dan memperkuat posisi di tingkat global.
Namun di balik optimisme tersebut, ia mengingatkan adanya potensi gangguan dari pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Indonesia mandiri. Dugaan praktik mafia hingga kepentingan asing disebut bisa menjadi tantangan tersendiri dalam perjalanan menuju swasembada pangan berkelanjutan.
Stok Beras Melonjak, Produksi Daerah Meroket
Capaian konkret terlihat dari lonjakan signifikan stok beras nasional. Saat ini, cadangan mencapai sekitar 4,5 juta ton dan diproyeksikan menembus 5 juta ton dalam waktu dekat, bahkan berpotensi menyentuh 6 juta ton dalam dua bulan mendatang.
Angka ini melonjak drastis dibanding periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya yang hanya berkisar 1,5 juta ton. Artinya, terjadi peningkatan hingga tiga kali lipat—indikator kuat keberhasilan pengelolaan sektor pangan nasional.
Di daerah, peningkatan produksi juga terlihat nyata. Sulawesi Selatan misalnya, mencatat lonjakan produksi dari sekitar 300 ribu ton menjadi 761 ribu ton dalam periode terakhir. Kenaikan lebih dari dua kali lipat ini menjadi bukti bahwa strategi intensifikasi dan optimalisasi lahan mulai membuahkan hasil.
Klaim Kesejahteraan Petani Naik, Ekspor Menggeliat
Tak hanya soal angka produksi, Amran juga menyoroti meningkatnya kesejahteraan petani. Ia menyebut kondisi saat ini sebagai salah satu yang terbaik sejak Indonesia merdeka.
Peningkatan ekspor produk pertanian turut menjadi sinyal positif. Ketika produksi melimpah dan kebutuhan dalam negeri tercukupi, peluang ekspor terbuka lebar menguatkan posisi Indonesia di pasar global.
Momentum Langka dalam Sejarah Pangan Nasional
Amran menilai kondisi saat ini sebagai momentum penting yang jarang terjadi dalam sejarah Indonesia. Ketahanan pangan yang kuat, didukung produksi tinggi dan stok melimpah, menjadi modal besar menuju masa depan yang mandiri dan berkelanjutan.
Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga capaian ini. Menurutnya, Indonesia adalah milik bersama yang harus dijaga dengan kolaborasi, bukan sekadar kritik tanpa kontribusi.
“Semua punya kesempatan berperan. Bahkan ke depan, siapa pun bisa menjadi bagian dari pemerintahan,” ujarnya.
Menuju Indonesia Kekuatan Pangan Dunia
Optimisme tersebut bukan tanpa alasan. Dengan sumber daya alam melimpah, dukungan kebijakan, serta peningkatan produktivitas, Indonesia dinilai berada di jalur yang tepat menuju kekuatan pangan global.
Namun, tantangan tetap ada. Konsistensi kebijakan, pengawasan distribusi, serta perlindungan petani menjadi kunci agar ambisi besar ini tidak hanya menjadi wacana.
Jika seluruh elemen bangsa mampu bersatu, bukan tidak mungkin Indonesia benar-benar menjelma menjadi superpower pangan dunia dalam waktu yang lebih cepat dari perkiraan.
Baca selengkapnya berita nasional lainnya di JurnalLugas.Com
(SF)






