JurnalLugas.Com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah hasil investigasi terbaru mengungkap adanya kandungan nitrit berlebih pada salah satu menu makanan yang disajikan kepada siswa di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Temuan ini memicu kekhawatiran terkait pengawasan bahan pangan dalam program pemenuhan gizi nasional tersebut.
Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap menu makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna, menunjukkan sebagian besar makanan aman dari kontaminasi bakteri. Namun, tim investigasi menemukan kandungan nitrit tinggi pada menu tumis pakcoy yang disajikan pada pertengahan April 2026.
Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, menjelaskan kadar nitrit yang ditemukan mencapai angka yang jauh melebihi standar keamanan pangan internasional.
Menurutnya, apabila mengacu pada batas aman yang ditetapkan The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), kandungan nitrit pada menu tersebut mencapai 169 kali lipat di atas ambang batas konsumsi harian yang direkomendasikan.
“Temuan ini sangat serius karena berpotensi berdampak luas terhadap keamanan pangan,” ujar Arie dalam keterangannya.
Meski demikian, hasil pengujian laboratorium dari Labkesda Jawa Barat memastikan mayoritas sampel makanan lainnya tidak terpapar bakteri berbahaya. Menu yang diperiksa dari periode 13 hingga 18 April 2026 dinyatakan negatif dari kontaminasi Salmonella, E.Coli, Staphylococcus aureus, maupun Bacillus cereus.
Investigasi juga mengungkap bahwa nitrit sebenarnya dapat muncul secara alami pada sejumlah sayuran dan buah. Namun kadarnya bisa meningkat akibat proses tertentu, termasuk aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit.
Selain faktor alami, tim investigasi menduga adanya potensi sumber kontaminasi lain seperti penggunaan pupuk nitrogen berlebihan, air irigasi yang tercemar limbah biologis, hingga kemungkinan paparan limbah industri di sekitar area pertanian pemasok bahan pangan.
BGN kini meminta evaluasi menyeluruh dilakukan bersama Kementerian Pertanian guna menelusuri rantai pasok bahan baku yang digunakan dalam program MBG. Langkah ini dinilai penting agar kasus serupa tidak kembali terjadi di daerah lain.
Arie menegaskan paparan nitrit dalam jumlah tinggi dapat memicu kondisi methaemoglobinemia, yaitu gangguan ketika hemoglobin dalam darah kehilangan kemampuan optimal membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Akibat kondisi tersebut, seseorang dapat mengalami tubuh lemas, pusing, hingga sesak napas akibat kekurangan oksigen pada jaringan tubuh. Risiko itu dinilai lebih rentan terjadi pada anak-anak apabila terpapar dalam jumlah besar.
Kasus di Cianjur sebelumnya mencuat setelah sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan dari program MBG. Pemerintah daerah bersama instansi kesehatan kemudian melakukan pemeriksaan laboratorium serta evaluasi terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan program pangan nasional tidak hanya bergantung pada distribusi makanan bergizi, tetapi juga pengawasan kualitas bahan pangan sejak dari hulu hingga sampai ke meja makan siswa.
Baca berita nasional dan isu terkini lainnya di JurnalLugas.Com
(Soefriyanto)






