Kesal Bertahun-Tahun Tak Diperbaiki, Warga Blora Tanam Pohon Pisang di Jalan Provinsi

JurnalLugas.Com – Kekecewaan warga terhadap kondisi infrastruktur di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, memuncak. Ruas jalan provinsi yang menghubungkan Kecamatan Randublatung dan Cepu berubah menjadi lokasi aksi protes unik namun sarat pesan. Puluhan pohon pisang ditanam di tengah jalan yang dipenuhi lubang sebagai simbol perlawanan terhadap kerusakan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Aksi warga yang berlangsung pada akhir Mei 2026 itu menarik perhatian pengguna jalan dan masyarakat luas. Jalan sepanjang sekitar 2,5 kilometer yang menjadi urat nadi mobilitas warga dinilai sudah berada dalam kondisi memprihatinkan dan berpotensi membahayakan keselamatan pengendara setiap hari.

Bacaan Lainnya

Sedikitnya 30 pohon pisang ditancapkan pada titik-titik kerusakan paling parah. Selain sebagai bentuk sindiran, pohon-pohon tersebut juga berfungsi sebagai penanda agar pengendara lebih waspada saat melintas, terutama pada malam hari ketika lubang sulit terlihat.

Warga menilai kerusakan jalan tidak lagi bisa dianggap sebagai persoalan biasa. Selain menghambat aktivitas ekonomi, kondisi tersebut telah berkali-kali memicu kecelakaan lalu lintas.

Salah seorang warga, Sunoto, mengungkapkan bahwa aksi tersebut lahir dari akumulasi kekecewaan masyarakat yang merasa suara mereka belum mendapatkan perhatian serius.

Baca Juga  KPU Jateng Tetapkan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Gubernur dan Wagub Terpilih

“Kami hanya ingin ada penjelasan dan kepastian. Jalan ini sangat dibutuhkan masyarakat, bukan sekadar persoalan proyek pembangunan,” ujarnya.

Menurut warga, berbagai upaya telah dilakukan sebelum aksi tanam pohon pisang digelar. Masyarakat bahkan mengumpulkan dana secara swadaya untuk menambal lubang-lubang jalan yang dianggap paling berbahaya. Namun perbaikan sederhana tersebut hanya mampu bertahan sementara karena kerusakan terus meluas.

Jalur Strategis yang Menopang Aktivitas Ekonomi

Ruas Randublatung-Cepu bukan sekadar jalan penghubung antarwilayah. Jalur ini menjadi akses penting bagi kendaraan logistik, distribusi barang, hingga perjalanan antarprovinsi. Banyak sopir memilih melintas melalui kawasan tersebut karena dinilai lebih efisien dalam memangkas waktu perjalanan.

Namun kondisi jalan yang semakin memburuk membuat sebagian kendaraan besar memilih mencari rute alternatif. Selain memperpanjang waktu tempuh, kerusakan jalan juga meningkatkan biaya operasional akibat risiko kerusakan kendaraan.

Dika, seorang pengemudi ekspedisi yang rutin melintasi jalur tersebut, mengaku kondisi jalan sudah lama menjadi keluhan para sopir.

“Kerusakannya sudah terkenal. Banyak lubang besar yang membuat kendaraan harus berjalan sangat pelan. Kalau muatan berat, risikonya cukup tinggi,” katanya.

Keluhan serupa juga datang dari pelaku usaha lokal yang mengandalkan jalur tersebut untuk mendistribusikan hasil pertanian maupun kebutuhan perdagangan antarwilayah.

Infrastruktur dan Keselamatan Jadi Sorotan

Persoalan jalan rusak kembali menegaskan pentingnya pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan di daerah. Bagi warga, jalan bukan hanya sarana transportasi, tetapi juga faktor penting yang memengaruhi keselamatan, pertumbuhan ekonomi, pendidikan, hingga akses layanan kesehatan.

Baca Juga  Sengketa Lahan dan Peran APH, Saat Perusahaan Menang, Rakyat Kecil Musnah

Pengamat tata wilayah menilai bahwa keterlambatan penanganan jalan rusak dapat menimbulkan dampak berantai. Selain meningkatkan angka kecelakaan, kondisi tersebut berpotensi menurunkan produktivitas ekonomi masyarakat karena distribusi barang dan mobilitas warga menjadi terganggu.

Aksi tanam pohon pisang yang dilakukan warga Blora pun menjadi simbol bahwa masyarakat menginginkan langkah nyata, bukan sekadar janji perbaikan. Mereka berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait penanganan ruas jalan yang selama ini menjadi keluhan bersama.

Di tengah derasnya arus pembangunan di berbagai daerah, warga Randublatung dan Cepu berharap hak dasar mereka untuk menikmati jalan yang aman dan layak dapat segera terwujud. Bagi mereka, jalan yang baik bukan sekadar infrastruktur, melainkan kebutuhan yang menyangkut keselamatan dan masa depan perekonomian masyarakat.

Baca berita lainnya
https://jurnallugas.com

Bowo

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait