JurnalLugas.Com — Wacana Joko Widodo atau Jokowi menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berpotensi membawa perubahan terhadap peta politik nasional.
Bukan hanya soal kepemimpinan internal PSI, langkah tersebut juga dinilai bisa memengaruhi perolehan suara partai lain yang selama ini memiliki kedekatan politik dengan Jokowi.
Isu tersebut menjadi pembahasan dalam podcast Akbar Faizal bersama Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi dan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno pada 3 September 2026.
Dalam diskusi itu, Akbar menyebut adanya kabar Jokowi akan menempati posisi Ketua Umum PSI pada Oktober atau November 2026.
Ia juga mengungkap hasil sejumlah survei yang menurutnya menunjukkan adanya perbedaan daya elektoral ketika Jokowi hanya menjadi bagian dari struktur pembina dibandingkan jika langsung memimpin partai.
Akbar memperkirakan elektabilitas PSI berpotensi meningkat tajam apabila Jokowi benar-benar menjadi ketua umum. Dalam skenario tertentu, perolehan suara PSI bahkan disebut bisa berada di kisaran belasan persen hingga mendekati 20 persen.
“Kenaikan tersebut sekaligus membuka potensi persoalan bagi partai politik lain yang selama ini menjadi bagian dari barisan pendukung Jokowi,” katanya Selasa September 2026.
Akbar mempertanyakan apakah lonjakan suara PSI nantinya justru akan mengambil sebagian suara dan kursi dari partai-partai yang selama ini menjadi mitra politik Jokowi.
Budi Arie menanggapi hal itu sebagai konsekuensi dari kompetisi demokrasi. Menurutnya, setiap partai memiliki ruang untuk menarik dukungan masyarakat selama mampu menawarkan wadah bagi aspirasi pemilih.
Sementara itu, Adi Prayitno menyebut survei Parameter Politik Indonesia pada Juli-Agustus 2026 menunjukkan adanya daya ungkit Jokowi terhadap PSI.
Menurut Adi, sekitar 40 persen responden mengetahui aktivitas safari politik Jokowi ke sejumlah daerah, termasuk Lampung dan Nusa Tenggara Timur, yang dikaitkan dengan upaya memperkuat PSI. Dari kelompok tersebut, sekitar 13 persen disebut berpotensi bergabung atau memilih PSI.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa keberadaan Jokowi dapat memberikan tambahan daya tarik bagi PSI.
Jika wacana pergantian kepemimpinan itu benar-benar terwujud, pertarungan elektoral PSI tidak hanya akan berkaitan dengan upaya meningkatkan suara sendiri, tetapi juga berpotensi mengubah distribusi dukungan di antara partai-partai yang selama ini berada dalam lingkaran politik Jokowi.
Dengan kata lain, masuknya Jokowi ke posisi puncak PSI berpotensi menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan perubahan peta suara pada kontestasi politik berikutnya.
Baca berita dan informasi terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Soefriyanto)






