JurnalLugas.Com – Pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama perdagangan 5–9 Oktober 2026 memperlihatkan perbedaan tajam antar-emiten. Saat saham AKKU melesat lebih dari dua kali lipat, saham DOOH justru mencatatkan penurunan terdalam.
Kondisi tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup pekan di zona hijau. Namun, penguatan indeks belum mencerminkan kenaikan harga seluruh saham di pasar.
Berdasarkan statistik perdagangan mingguan BEI, saham PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk (AKKU) menjadi pemimpin daftar saham dengan kenaikan tertinggi. Harganya naik 102,50 persen, dari Rp40 menjadi Rp81 per saham.
Sementara itu, saham PT ERA Merida Sejahtera Tbk (DOOH) berada di posisi sebaliknya. Harganya merosot 26,23 persen, dari Rp366 menjadi Rp270 per saham.
Perbedaan kinerja ini menjadi perhatian bagi investor yang memantau peluang keuntungan maupun risiko penurunan harga di pasar saham.
Daftar Saham dengan Kenaikan Tertinggi
Selain AKKU, sejumlah emiten lain mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang pekan perdagangan tersebut.
Saham ASMI menempati posisi kedua setelah melonjak 85,71 persen, dari Rp21 menjadi Rp39 per saham. Berikutnya, STRK menguat 59,62 persen, dari Rp52 menjadi Rp83.
Saham KKES naik 57,69 persen menjadi Rp82 dari sebelumnya Rp52. Adapun ALKA menguat 55,91 persen, dari Rp4.570 menjadi Rp7.125 per saham.
Berikut daftar 10 saham dengan kenaikan harga tertinggi selama 5–9 Oktober 2026:
- AKKU: naik 102,50 persen menjadi Rp81.
- ASMI: naik 85,71 persen menjadi Rp39.
- STRK: naik 59,62 persen menjadi Rp83.
- KKES: naik 57,69 persen menjadi Rp82.
- ALKA: naik 55,91 persen menjadi Rp7.125.
- CSMI: naik 55,12 persen menjadi Rp515.
- PCAR: naik 52,54 persen menjadi Rp90.
- IFSH: naik 52,45 persen menjadi Rp2.020.
- SAFE: naik 52,24 persen menjadi Rp1.020.
- PGLI: naik 45,86 persen menjadi Rp388.
Kenaikan tersebut merupakan perubahan harga selama satu pekan perdagangan, bukan jaminan bahwa saham-saham itu akan kembali menguat pada pekan berikutnya.
DOOH Pimpin Penurunan, Ini Daftar Saham yang Merugi
Di sisi lain, tekanan jual membuat sejumlah saham mencatatkan koreksi cukup dalam. DOOH menjadi emiten dengan penurunan terbesar setelah kehilangan 26,23 persen dari harga penutupan pekan sebelumnya.
Saham INTD menyusul dengan penurunan 22,68 persen, dari Rp388 menjadi Rp300. Sementara itu, TRIN melemah 21,54 persen, dari Rp260 menjadi Rp204 per saham.
Koreksi juga menimpa SONA yang turun 18,35 persen menjadi Rp3.070. Saham KOTA melemah 16,88 persen ke Rp128, sedangkan UANG turun 16,53 persen menjadi Rp2.980.
Berikut daftar 10 saham dengan penurunan terdalam selama periode yang sama:
- DOOH: turun 26,23 persen menjadi Rp270.
- INTD: turun 22,68 persen menjadi Rp300.
- TRIN: turun 21,54 persen menjadi Rp204.
- SONA: turun 18,35 persen menjadi Rp3.070.
- KOTA: turun 16,88 persen menjadi Rp128.
- UANG: turun 16,53 persen menjadi Rp2.980.
- JAWA: turun 15,34 persen menjadi Rp149.
- FORU: turun 14,11 persen menjadi Rp140.
- WAPO: turun 13,64 persen menjadi Rp304.
- TIFA: turun 13,48 persen menjadi Rp308.
Daftar tersebut memperlihatkan bahwa pergerakan saham dapat berbeda jauh meskipun seluruhnya diperdagangkan dalam periode yang sama.
IHSG Menguat, Investor Asing Masih Jual Bersih
Di tengah pergerakan saham yang beragam, IHSG mengakhiri perdagangan Jumat (9/10/2026) pada level 6.093,759.
Angka tersebut meningkat 56,871 poin atau 0,94 persen dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya di level 6.036,888.
Aktivitas transaksi juga menunjukkan peningkatan. Rata-rata nilai transaksi harian BEI naik 28,52 persen menjadi Rp16,23 triliun, dibandingkan Rp12,63 triliun pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp2,45 triliun. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai Rp5,04 triliun.
Data ini memperlihatkan dua kondisi berbeda di pasar saham. IHSG menguat dan nilai transaksi meningkat, tetapi tekanan jual investor asing masih berlangsung dan sejumlah emiten mengalami koreksi tajam.
Bagi investor, perubahan harga mingguan perlu dilihat bersama informasi resmi perusahaan, kondisi fundamental, likuiditas saham, serta risiko investasi. Kenaikan paling tinggi dalam satu pekan tidak otomatis menjadikan suatu saham pilihan terbaik untuk periode berikutnya.
Sebaliknya, penurunan harga yang dalam juga tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa saham tersebut akan segera pulih. Keputusan investasi tetap membutuhkan analisis dan pertimbangan risiko sesuai profil masing-masing investor.
Informasi ini bersumber dari statistik perdagangan mingguan Bursa Efek Indonesia untuk periode 5–9 Oktober 2026.
Baca berita ekonomi dan pasar modal lainnya di JurnalLugas.Com.
(Hans)






