Diminta Taubatan Nasuhah Mardiono Saya Selalu Salat Taubat

JurnalLugas.Com – Pelaksana Tugas (Plt.) Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhammad Mardiono, mengungkapkan pentingnya melaksanakan salat taubat sebagai bentuk refleksi atas kesalahan sehari-hari. Menurut Mardiono, setiap manusia, termasuk dirinya, tidak luput dari dosa dan kekhilafan, sehingga membutuhkan ruang untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

“Saya selalu melaksanakan salat taubat. Taubat itu diajarkan oleh agama agar kita senantiasa menyadari kesalahan dan memperbaikinya,” ujar Mardiono di Jakarta pada Jumat malam, 13 Desember 2024. Pernyataan ini disampaikannya ketika merespons seruan Ketua Majelis Pertimbangan DPP PPP, Muhammad Romahurmuziy, tentang pentingnya menjalankan “taubatan nasuhah.”

Bacaan Lainnya

Mardiono menegaskan bahwa dosa adalah hal yang tidak terelakkan dalam kehidupan sehari-hari. Kesalahan dalam ucapan, tindakan, maupun keputusan menjadi bagian dari dinamika hidup manusia. Oleh karena itu, ia merasa bahwa salat taubat merupakan langkah spiritual untuk membersihkan diri dari dosa-dosa tersebut.

“Setiap hari, kita memperbarui dosa. Namun Allah memberikan ruang untuk bertaubat agar kita bisa terus memperbaiki diri,” tuturnya.

Baca Juga  PPP Tak Lolos Senayan Mardiono Tanggung Jawab Pengurus

Sebagai pemimpin sementara di PPP, Mardiono merasa bertanggung jawab tidak hanya dalam menjalankan tugas politik, tetapi juga dalam memberikan teladan moral dan spiritual kepada pengurus serta kader partai.

Seruan “taubatan nasuhah” yang disampaikan Muhammad Romahurmuziy, atau akrab disapa Romy, bukan ditujukan kepada individu tertentu, melainkan kepada seluruh pengurus DPP PPP. Seruan ini muncul sebagai bentuk evaluasi atas kegagalan partai berlambang Ka’bah tersebut dalam Pemilu 2024, di mana untuk pertama kalinya dalam 11 pemilu, PPP gagal meloloskan wakilnya ke DPR RI.

“Ketika saya menyerukan ‘taubatan nasuhah,’ itu adalah panggilan bagi seluruh jajaran DPP untuk meminta maaf secara kesatria kepada kader dan simpatisan partai di seluruh Indonesia,” ujar Romy.

Menurutnya, kekalahan ini menjadi momen refleksi yang harus dimanfaatkan oleh PPP untuk melakukan pembenahan internal. Romy juga mendorong agar partai membuka peluang bagi munculnya calon pemimpin baru yang mampu membawa PPP kembali ke jalur kemenangan di pemilu mendatang.

Kegagalan di Pemilu 2024 menjadi peringatan keras bagi PPP untuk melakukan reformasi struktural dan strategis. Dalam pandangan Romy, permintaan maaf yang tulus kepada kader dan simpatisan adalah langkah awal menuju perbaikan. Ia juga menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan untuk menciptakan visi baru yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga  Menteri PANRB dan Mendiktisaintek Sepakat Angkat Dosen PTN Baru Jadi PPPK Simak Selengkapnya

Melalui refleksi spiritual seperti salat taubat yang dilakukan Mardiono, serta seruan perbaikan yang disampaikan Romy, diharapkan PPP mampu bangkit dari keterpurukan. Dengan melakukan introspeksi mendalam, partai ini diharapkan dapat kembali menjadi salah satu kekuatan politik yang diperhitungkan di Indonesia.

Perjalanan politik PPP menghadapi tantangan besar. Namun, dengan mengedepankan nilai-nilai moral dan keberanian untuk mengakui kesalahan, partai ini memiliki peluang untuk kembali meraih kepercayaan publik. Salat taubat yang dilakukan secara konsisten dan seruan “taubatan nasuhah” menjadi simbol kesungguhan PPP dalam membangun kembali fondasi politik yang kokoh dan bermartabat.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait