Saham Farmasi Meroket di Tengah Kabar Kenaikan Kasus Covid-19 Asia Ini Daftarnya

JurnalLugas.Com – Deretan saham sektor kesehatan, terutama emiten farmasi, mencatatkan lonjakan signifikan pada perdagangan Senin pagi (2/6/2025), seiring dengan mencuatnya kekhawatiran terhadap peningkatan kasus Covid-19 di beberapa negara Asia.

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 10.34 WIB, sejumlah saham farmasi mengalami reli tajam. Saham PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mencatat kenaikan impresif sebesar 21,50 persen, disusul Phapros (PEHA) yang melejit 21,58 persen, dan Ittama Ranoraya (IRRA) yang melonjak 19,37 persen.

Bacaan Lainnya

Saham lain yang turut terdongkrak antara lain Diagnos Laboratorium Utama (DGNS) yang naik 12,58 persen, Jayamas Medica (OMED) sebesar 9,83 persen, serta Pyridam Farma (PYFA) yang menguat 7,02 persen. Selain itu, Haloni Jane (HALO) naik 5,88 persen, Multi Medika (MMIX) 5,70 persen, Sarana Meditama (SAME) 4,65 persen, Kalbe Farma (KLBF) 2,31 persen, dan Charlie Hospital (RSCH) sebesar 1,42 persen.

Pengaruh Sentimen Covid-19

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan bahwa lonjakan harga saham farmasi tersebut tidak lepas dari sentimen pasar yang merespons kabar peningkatan kasus Covid-19 di beberapa wilayah Asia.

Baca Juga  Dividen Interim vs Dividen Final, Panduan Lengkap Investor Pemula dan Profesional

“Emiten farmasi sangat sensitif terhadap isu-isu pandemi. Ketika ada berita terkait Covid-19, terutama potensi lonjakan kasus, saham-saham sektor ini biasanya langsung memberikan respons cepat,” ujar Michael, Senin (2/6/2025).

Namun demikian, Michael mengingatkan bahwa kenaikan tersebut cenderung bersifat jangka pendek dan lebih dipicu oleh aksi spekulatif ketimbang fundamental.

“Investor perlu mencermati dengan seksama jangka waktu investasi serta potensi risiko yang tidak kecil apabila ingin memasukkan saham farmasi ke dalam portofolio,” tambahnya.

Surat Edaran Kemenkes

Peningkatan sentimen ini terjadi pasca terbitnya Surat Edaran Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor SR.03.01/C/1422/2024 yang ditandatangani oleh Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Murti Utami, pada 23 Mei 2025.

Surat edaran tersebut menyoroti lonjakan kasus Covid-19 di beberapa negara Asia seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Hong Kong, terutama pada minggu ke-12 tahun 2025. Varian-varian baru seperti XEC dan JN.1 di Thailand, serta LF.7 dan NB.1.8 di Singapura, disebut sebagai pemicu utama peningkatan kasus.

Meski situasi di Indonesia masih terkendali, Kemenkes mencatat bahwa varian dominan yang beredar adalah MB.1.1, dengan tren kasus konfirmasi mingguan justru menunjukkan penurunan dari 28 kasus menjadi hanya 3 kasus pada minggu ke-20.

Baca Juga  IHSG BEI Ditutup Menguat Sektor Energi Memimpin Kenaikan

Dalam surat tersebut, Kemenkes juga mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) di seluruh Indonesia untuk meningkatkan pelaporan dan pengawasan terhadap kasus ILI (influenza-like illness), SARI (severe acute respiratory infection), pneumonia, maupun Covid-19 melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Apabila ditemukan peningkatan kasus yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), laporan harus segera disampaikan dalam waktu kurang dari 24 jam melalui sistem Surveilans Berbasis Kejadian (Event Based Surveillance/EBS).

Lonjakan saham farmasi menunjukkan betapa pasar sangat cepat merespons isu-isu kesehatan global. Namun, penting bagi investor untuk tetap berhati-hati, mengingat volatilitas sektor ini sangat tinggi dan rentan terhadap perubahan sentimen dalam jangka pendek.

Baca informasi lebih lengkap dan terpercaya seputar isu nasional dan dunia investasi hanya di JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait