JurnalLugas.Com — Indeks saham utama Wall Street berakhir bervariasi pada perdagangan Jumat, 14 November 2025. S&P 500 ditutup sedikit lebih rendah, namun mampu menjauhi titik terlemahnya berkat gelombang pembelian kembali saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) yang sempat tertekan.
Pada sesi Sabtu, 15 November 2025 waktu Indonesia, Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan 309 poin atau 0,7 persen, sementara S&P 500 melemah 0,1 persen. Di sisi lain, NASDAQ Composite justru naik tipis 0,1 persen, mencerminkan rotasi investor menuju saham teknologi.
Sektor Teknologi Bangkit Setelah Aksi Jual
Saham-saham raksasa AI seperti Nvidia, Oracle, dan Palantir berhasil memangkas kerugian dan berbalik menguat. Investor memanfaatkan pelemahan beberapa hari terakhir sebagai peluang akumulasi.
Kenaikan Nvidia terjadi hanya sepekan sebelum produsen chip tersebut merilis laporan keuangan kuartalannya, yang diperkirakan menjadi indikator penting permintaan global terhadap produk berbasis AI.
Dalam catatan risetnya, BCL, analis dari Barclays, menilai bahwa sentimen pasar menjelang laporan tersebut “mulai beralih ke mode berhati-hati”, mengingat volatilitas tinggi di sektor semikonduktor menjelang rilis data Wall Street pada 19 November.
Applied Materials: Belanja Chip di Tiongkok Diperkirakan Turun
Dari sisi fundamental industri, Applied Materials memperingatkan bahwa belanja peralatan fabrikasi chip di Tiongkok kemungkinan melemah tahun depan akibat langkah kontrol ekspor Amerika Serikat yang semakin ketat.
Perusahaan juga menyampaikan bahwa pendapatan fiskal 2026 diproyeksikan tertekan hingga USD 600 juta akibat perluasan pembatasan ekspor peralatan chip canggih. Namun, AMAT tetap optimistis peningkatan investasi dunia usaha dalam teknologi AI dapat mengerek permintaan peralatan semikonduktor pada paruh kedua tahun depan.
Harapan Pemangkasan Suku Bunga The Fed Melemah
Ekspektasi investor terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada Desember semakin menipis setelah sejumlah pejabat bank sentral menyampaikan pandangan hawkish.
Presiden The Fed Minneapolis, N. Kashkari, mengungkapkan kepada Bloomberg bahwa ia “menentang pemotongan suku bunga pada pertemuan sebelumnya” dan masih belum yakin kondisi saat ini mendukung pelonggaran kebijakan Desember.
Nada serupa juga disampaikan Presiden The Fed St. Louis, A. Musalem, serta Presiden The Fed Cleveland, B. Hammack, yang menilai kebijakan yang terlalu longgar berisiko memicu ketidakseimbangan mengingat tekanan inflasi yang masih menguat.
Data dari CME FedWatch menunjukkan pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan sebesar 25 bps pada Desember hanya sekitar 50 persen, turun dari 67,8 persen pada pekan sebelumnya.
Tingkat Pengangguran Turun, Namun Belum Menyakinkan Pasar
Di tengah ketidakpastian kebijakan moneter, laporan media berbasis data negara bagian menunjukkan bahwa pengajuan tunjangan pengangguran AS turun pada pekan lalu. Namun, penurunan tersebut dinilai tidak cukup signifikan untuk memperkuat argumen bahwa kondisi tenaga kerja melemah dan membutuhkan pemangkasan suku bunga segera.
Selain itu, pelaku pasar juga memantau dampak lanjutan dari ancaman penutupan pemerintah AS (government shutdown) yang sebelumnya hampir berlangsung 43 hari, yang dinilai dapat memengaruhi momentum ekonomi jangka pendek.
Sumber berita dan laporan lengkap lainnya dapat diakses di: https://JurnalLugas.com






