JurnalLugas.Com — Kebijakan pembelian kembali saham atau buyback yang dilakukan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dinilai menjadi sinyal kuat atas keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan serta prospek jangka panjang industri perbankan nasional. Langkah ini diapresiasi kalangan analis karena mencerminkan valuasi saham BMRI dianggap sudah berada pada level murah sehingga layak diperkuat melalui aksi korporasi.
Associate Director BUMN Research Group LMUI, Toto Pranoto, menyebut keputusan buyback sebagai langkah strategis yang tepat di tengah dinamika pasar modal yang masih berfluktuasi. Menurutnya, manajemen melihat momentum undervaluasi saham dan memilih memastikan nilai pemegang saham tetap terjaga.
“Buyback BMRI merupakan sinyal bahwa manajemen menilai harga saham sudah terlalu rendah. Bagi investor, ini menjadi indikator positif karena ada potensi peningkatan EPS ke depannya,” ujar Toto (23/11/2025).
Didukung Prospek Sektor dan Program Pemerintah
Toto menekankan prospek Bank Mandiri akan semakin kuat seiring membaiknya indikator keuangan serta dorongan program pembangunan nasional, mulai dari proyek infrastruktur berskala besar, hilirisasi mineral, sampai transisi energi.
“Prospeknya sangat baik, apalagi sudah ada dukungan Rp200 triliun dari Kementerian Keuangan. Yang penting analisis proyek diperketat agar NPL tetap terkendali,” imbuh Toto.
Buyback Sebesar Rp1,17 Triliun untuk Jaga Kepercayaan Investor
Program buyback Bank Mandiri senilai Rp1,17 triliun telah memperoleh restu pemegang saham pada RUPST Maret 2025. Seluruh pendanaan bersumber dari kas internal perusahaan, sehingga tidak mengganggu likuiditas operasional.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menegaskan buyback adalah bukti keyakinan perseroan terhadap kekuatan model bisnis.
“Buyback mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap ketahanan bisnis dan nilai jangka panjang Bank Mandiri,” tegas Novita.
Saham hasil buyback juga disiapkan untuk mendukung program kepemilikan saham pegawai (ESOP) sebagai bagian dari komitmen penerapan tata kelola berkelanjutan.
Kinerja Keuangan Mengerucut Positif
Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kuat pada pendapatan nonbunga (fee-based income) yang kini menyumbang 32 persen dari total pendapatan. Kontributor utamanya berasal dari digital banking dan treasury dengan masing-masing pertumbuhan 11% MoM dan 10% MoM.
“Kami memperkuat fundamental yang berkelanjutan melalui diversifikasi pendapatan, digital banking, dan efisiensi biaya,” jelas Novita.
Hingga September 2025, struktur bisnis BMRI mencatat:
- Penyaluran kredit konsolidasi: Rp 1.764 triliun
- Penghimpunan DPK: Rp 1.884 triliun
- Rasio NPL: 1,03%, jauh di bawah rata-rata industri
Menurut Novita, capaian tersebut menunjukkan Bank Mandiri mampu menjaga ekspansi bisnis tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
“Momentum pertumbuhan ini membuktikan strategi kami solid. Ke depan, kami akan memperkuat kontribusi terhadap perekonomian nasional,” tambahnya.
Prospek 2026: Bank Mandiri Diprediksi Tetap Jadi Primadona Investor
Dengan potensi ekonomi domestik yang masih ekspansif serta fokus pemerintahan pada hilirisasi dan pembangunan infrastruktur, Bank Mandiri disebut akan tetap menjadi salah satu emiten perbankan paling menarik di 2026.
“Aksi buyback bukan hanya menegaskan kepercayaan manajemen terhadap fundamental BMRI, tetapi juga menguatkan optimisme investor bahwa potensi kinerja perseroan masih sangat besar,” tutur Toto.
Fondasi keuangan kuat, likuiditas tinggi, dan konsistensi ekspansi yang sejalan dengan agenda pembangunan nasional membuat BMRI diyakini tetap menjadi magnet bagi investor domestik dan global.
Ikuti update berita lainnya hanya di: https://JurnalLugas.Com






