JurnalLugas.Com – Banjir dan longsor yang menimpa sejumlah wilayah di Sumatera dan Aceh dalam beberapa hari terakhir memunculkan kekhawatiran baru mengenai kondisi ekologis kawasan tersebut. Meski intensitas hujan memang tinggi, banyak ahli menilai bahwa bencana ini merupakan puncak dari kerusakan lingkungan yang telah berlangsung bertahun-tahun di daerah aliran sungai (DAS) dan kawasan hulu.
Sejumlah perusahaan besar yang beroperasi di sektor tambang, energi, dan kehutanan kini turut disorot karena aktivitas mereka dianggap memperlemah daya dukung alam. Pembukaan hutan, perubahan alur sungai, serta ekspansi industri disebut mempercepat penurunan kualitas ekosistem di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya.
Pemerintah Siap Tindak Pelaku Kerusakan Lingkungan
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol, menyatakan bahwa pemerintah akan memperluas investigasi untuk memastikan penyebab utama bencana.
“Kami akan memperdalam penyelidikan, termasuk meninjau langsung kondisi hulu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana,” ujarnya, Selasa, 9 Desember 2025.
PT Agincourt Resources: Deforestasi 300 Hektare dan Ekspansi Baru
Laporan yang dirujuk dari mynews.id mencatat bahwa Tambang Emas Martabe telah menghilangkan sekitar 300 hektare tutupan hutan dalam sembilan tahun terakhir. Lokasi Tailing Management Facility (TMF) perusahaan berada dekat Sungai Aek Pahu, yang menurut warga sering berubah keruh saat musim hujan sejak PIT Ramba Joring beroperasi.
Rencana ekspansi yang akan membuka 583 hektare lahan baru dan menebang lebih dari 185 ribu pohon menambah kekhawatiran terkait risiko ekologis di masa depan.
PLTA Batang Toru: Pengurangan Hutan dan Sedimentasi Sungai
Pembangunan PLTA Batang Toru disebut menghilangkan sekitar 350 hektare hutan di sepanjang 13 kilometer aliran sungai. Pembuangan material galian terowongan diduga meningkatkan sedimentasi.
Beredarnya video banjir di Jembatan Trikora yang memperlihatkan kayu gelondongan terbawa arus memicu dugaan bahwa material tersebut berasal dari kawasan pembangunan PLTA.
PT Toba Pulp Lestari (TPL): Konversi Hutan Menjadi Perkebunan
Ribuan hektare hutan di DAS Batang Toru telah berubah menjadi perkebunan eukaliptus. Alih fungsi ini memperparah degradasi habitat, termasuk koridor satwa di kawasan Dolok Sibualbuali–Batang Toru yang merupakan wilayah sensitif secara ekologis.
PTPN III: Deforestasi Skala Regional dalam 15 Tahun
Analisis regional yang merujuk pada data Global Forest Watch serta sejumlah studi nasional menunjukkan puluhan ribu hektare hutan hilang dalam 10–15 tahun terakhir di kawasan Batang Toru. Angka tersebut menggambarkan skala degradasi yang tidak kecil dan sudah berlangsung lama.
Hilangnya Hutan Hulu Tingkatkan Risiko Banjir dan Longsor
Para ahli lingkungan menegaskan bahwa hutan di daerah hulu berfungsi sebagai peredam banjir alami karena mampu menyerap air, memperlambat aliran permukaan, sekaligus menjaga kekuatan tanah. Ketika hutan hilang atau rusak, air hujan mengalir lebih cepat dan tanah menjadi labil, sehingga risiko banjir dan longsor meningkat tajam.
“Bencana yang kita lihat sekarang merupakan efek dari penurunan kualitas hutan hulu yang tidak ditangani sejak lama,” kata seorang peneliti hidrologi dalam wawancara dengan media.
Pentingnya Perbaikan Tata Kelola Lingkungan
Peristiwa ini menjadi peringatan bahwa pengelolaan sumber daya alam di daerah sensitif tidak dapat dilakukan secara asal. Tanpa pengawasan ketat, ekspansi industri bisa memperbesar risiko bencana dan menurunkan daya dukung lingkungan bagi masyarakat.
Selengkapnya kunjungi: https://JurnalLugas.Com






