JurnalLugas.Com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN) kini berkembang menjadi salah satu proyek sosial-ekonomi terbesar di Indonesia. Hingga pertengahan April 2026, investasi masyarakat yang terserap untuk pembangunan dapur layanan gizi atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah mencapai sekitar Rp54 triliun.
Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut dana jumbo tersebut sepenuhnya bergerak dari partisipasi investor dan mitra masyarakat di berbagai daerah, yang mendorong percepatan pembangunan fasilitas gizi secara nasional.
“Sekitar Rp54 triliun sudah bergerak dari investor untuk pembangunan SPPG,” ujar Dadan saat meresmikan salah satu unit SPPG di Cijujung, Kabupaten Bogor, Rabu (15/4/2026).
Ribuan Dapur Gizi Tersebar dari Sabang sampai Merauke
BGN mencatat sekitar 27 ribu unit SPPG telah aktif beroperasi di berbagai wilayah Indonesia. Jaringan ini menjadi tulang punggung distribusi makanan bergizi bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia dini.
Menurut Dadan, seluruh unit tersebut dibangun melalui kolaborasi investasi masyarakat, bukan hanya mengandalkan pembiayaan negara. Model ini disebut mempercepat ekspansi layanan secara signifikan.
“Kalau hanya mengandalkan anggaran pemerintah, jauh lebih lambat. Keterlibatan masyarakat membuat semuanya bergerak cepat,” kata dia dalam keterangan.
Perputaran Ekonomi Desa Ikut Bergerak
Setiap dapur SPPG tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan gizi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal. Pada tahap pembangunan, satu unit diperkirakan menyerap 15–20 tenaga kerja di daerah sekitar proyek.
Setelah beroperasi, setiap SPPG mengelola dana sekitar Rp1 miliar per bulan. Struktur penggunaannya dirancang untuk menguatkan ekonomi lokal, dengan porsi terbesar dialokasikan untuk pembelian bahan pangan dari petani, peternak, nelayan, hingga pelaku UMKM.
Sekitar 70 persen dana mengalir ke sektor bahan baku lokal, 20 persen untuk operasional termasuk pembayaran relawan, sementara 10 persen dialokasikan sebagai skema pengembalian investasi.
“Tidak ada lagi hasil pertanian yang terbuang, semuanya terserap,” ujar Dadan menegaskan dampak rantai pasok program tersebut.
1,1 Juta Relawan dan 62 Juta Penerima Manfaat
BGN juga mencatat keterlibatan sekitar 1,1 juta relawan di seluruh Indonesia yang mendukung operasional program MBG. Para relawan ini menjadi bagian penting dalam distribusi dan pengelolaan dapur gizi di tingkat komunitas.
Sementara itu, jumlah penerima manfaat disebut telah mencapai sekitar 62 juta orang, mencakup anak balita, ibu hamil, hingga ibu menyusui.
Dadan menilai besarnya partisipasi publik menunjukkan bahwa program ini tidak hanya berdimensi kesehatan, tetapi juga menjadi instrumen ekonomi berbasis komunitas yang terus berkembang.
Terus Ekspansi Menuju Wilayah Terpencil
Ke depan, pemerintah menargetkan perluasan pembangunan SPPG hingga sekitar 9 ribu unit tambahan di wilayah yang masih sulit dijangkau. Target tersebut diproyeksikan mampu menjangkau hingga 3 juta penduduk di daerah terpencil.
BGN berharap kolaborasi antara pemerintah, investor, dan masyarakat dapat terus diperkuat agar dampak program tidak hanya berhenti pada pemenuhan gizi, tetapi juga memperluas pemerataan ekonomi di tingkat akar rumput.
Dengan skala investasi dan jangkauan yang terus meningkat, MBG kini dipandang sebagai salah satu program sosial dengan dampak ekonomi paling luas di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Baca selengkapnya di: https://www.jurnallugas.com
(SF)





