JurnalLugas.Com – Fenomena lagu-lagu viral di media sosial kembali menarik perhatian publik. Kali ini, sebuah lagu berjudul My Little Bolu Ketan menjadi perbincangan setelah memuat lirik unik yang menyebut singkatan “MBG” atau “Mas Bahlil Ganteng”. Lagu tersebut ramai digunakan dalam berbagai unggahan video dan konten kreatif di sejumlah platform digital.
Menanggapi viralnya lagu tersebut, Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengaku penasaran dengan sosok di balik karya yang sedang ramai diperbincangkan itu. Ia bahkan menyatakan keinginannya untuk bertemu langsung dengan penciptanya.
Menurut Bahlil, kemunculan lagu tersebut menunjukkan betapa cepat dan dinamisnya kreativitas masyarakat, khususnya generasi muda, dalam memanfaatkan ruang digital untuk berekspresi. Ia menilai karya-karya yang lahir secara organik dari media sosial merupakan bagian dari perkembangan budaya populer yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan modern.
“Saya penasaran dengan orang yang membuat lagu itu. Kalau memungkinkan, saya ingin bertemu dan berbincang langsung,” ujar Bahlil dalam sebuah pernyataan yang diunggah melalui akun media sosial publik figur Raffi Ahmad.
Media Sosial Jadi Ruang Ekspresi Kreatif
Perkembangan platform digital telah membuka peluang luas bagi masyarakat untuk menghasilkan karya yang dapat menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat. Lagu-lagu sederhana yang awalnya dibuat untuk hiburan sering kali berkembang menjadi tren nasional karena dukungan komunitas internet.
Pengamat komunikasi digital, Andi Prasetyo, menilai fenomena tersebut menunjukkan perubahan pola produksi konten di era modern.
“Kreativitas saat ini tidak lagi hanya datang dari industri besar. Banyak karya viral lahir dari individu biasa yang mampu memahami selera audiens digital,” katanya.
Bahlil sendiri mengaku menghargai kreativitas yang ditunjukkan para kreator konten dan netizen. Menurutnya, inovasi dan ide-ide segar dari anak muda perlu diberikan ruang selama disampaikan secara positif dan tidak merugikan pihak lain.
Ingatkan Pentingnya Etika Bermedia Sosial
Meski mengapresiasi kreativitas digital, Bahlil juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam penggunaan media sosial. Ia menekankan bahwa kebebasan berekspresi harus tetap berada dalam koridor yang menghormati keberagaman masyarakat Indonesia.
Menurutnya, konten yang mengandung unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) berpotensi memicu perpecahan dan mengganggu persatuan bangsa. Karena itu, kreativitas di ruang digital perlu diimbangi dengan tanggung jawab sosial.
Pesan tersebut dinilai relevan di tengah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sarana komunikasi publik. Dengan jumlah pengguna internet yang terus bertambah, konten yang tersebar luas dapat memberikan dampak besar, baik positif maupun negatif.
Pejabat Publik Harus Siap Menerima Respons Masyarakat
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil menegaskan bahwa figur publik dan pejabat negara harus siap menerima berbagai bentuk respons dari masyarakat. Kritik, masukan, hingga ekspresi kreatif yang muncul di ruang digital merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang berkembang.
Sikap terbuka terhadap berbagai bentuk ekspresi publik dinilai penting untuk menjaga hubungan yang sehat antara pemimpin dan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan tetap mengedepankan etika serta semangat persatuan dalam menyampaikan pendapat.
Fenomena lagu My Little Bolu Ketan menjadi contoh bagaimana kreativitas digital mampu menciptakan percakapan luas di tengah masyarakat. Di era media sosial saat ini, sebuah karya sederhana dapat berkembang menjadi tren nasional sekaligus membuka ruang dialog antara kreator dan tokoh publik yang menjadi inspirasi kontennya.
Baca berita dan artikel menarik lainnya di JurnalLugas.Com
(Soefriyanto)






