JurnalLugas.Com – Kinerja pasar tenaga kerja Indonesia menunjukkan sinyal yang lebih baik pada pertengahan 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka mengalami penurunan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, seiring bertambahnya jumlah masyarakat yang berhasil memperoleh pekerjaan.
Berdasarkan data ketenagakerjaan terbaru hingga Mei 2026, jumlah pengangguran terbuka tercatat sebanyak 7,22 juta orang.
Angka tersebut turun sekitar 24 ribu orang dibandingkan kondisi pada Februari 2026 yang mencapai 7,24 juta orang.
Penurunan itu turut mendorong membaiknya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional menjadi 4,65 persen, lebih rendah dibandingkan posisi Februari 2026 yang berada di level 4,68 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, mengatakan penurunan jumlah pengangguran tidak terlepas dari meningkatnya jumlah angkatan kerja yang berhasil terserap ke dunia usaha maupun berbagai sektor ekonomi.
“Jumlah pengangguran turun sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Ini sejalan dengan bertambahnya penduduk yang bekerja,” ujar Edy saat memaparkan perkembangan ketenagakerjaan, Rabu (5/8/2026).
Menurut BPS, tren penurunan pengangguran berlangsung secara merata. Kondisi tersebut terjadi baik pada pekerja laki-laki maupun perempuan serta terlihat di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Data BPS juga menunjukkan jumlah penduduk usia kerja Indonesia kini mencapai 220,23 juta orang, meningkat sekitar 689 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Dari jumlah tersebut, 155,41 juta orang masuk kategori angkatan kerja atau bertambah hampir 497 ribu orang.
Sementara itu, masyarakat yang berhasil memperoleh pekerjaan mencapai 148,19 juta orang, meningkat sekitar 522 ribu orang dalam kurun waktu tiga bulan. Bertambahnya jumlah pekerja inilah yang menjadi faktor utama turunnya tingkat pengangguran nasional.
Apabila dirinci berdasarkan status pekerjaan, pekerja penuh masih mendominasi dengan jumlah 98,98 juta orang. Angka tersebut meningkat sekitar 391 ribu orang dibandingkan Februari lalu.
Selain itu, jumlah pekerja paruh waktu juga mengalami kenaikan menjadi 38,42 juta orang, sedangkan kelompok pekerja setengah menganggur tercatat 10,79 juta orang. Kedua kategori tersebut sama-sama mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.
Meski tren pengangguran membaik, tantangan pasar kerja nasional masih cukup besar. Data BPS sebelumnya menunjukkan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi.
Dalam laporan ketenagakerjaan Februari 2026, tingkat pengangguran lulusan SMK mencapai 7,74 persen, disusul lulusan SMA sebesar 6,23 persen.
Sebaliknya, penduduk dengan pendidikan SD atau di bawahnya memiliki tingkat pengangguran paling rendah, yakni sekitar 2,32 persen.
Secara distribusi, lulusan SMA masih menjadi kelompok penyumbang jumlah pengangguran terbesar secara nasional dengan porsi sekitar 28 persen dari total penganggur.
BPS juga mencatat tantangan terbesar lainnya berasal dari kelompok usia muda. Penduduk berusia 15 hingga 24 tahun masih memiliki tingkat pengangguran tertinggi, mencapai 16,36 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia produktif lainnya.
Kondisi itu menunjukkan lulusan baru atau pencari kerja usia muda masih menghadapi persaingan yang ketat ketika memasuki pasar tenaga kerja.
Di sisi lain, kelompok usia lanjut justru memiliki tingkat pengangguran paling rendah karena sebagian besar sudah memiliki pekerjaan tetap atau tidak lagi masuk dalam angkatan kerja aktif.
Dari sisi wilayah, tingkat pengangguran di kawasan perkotaan juga masih lebih tinggi dibandingkan daerah perdesaan.
Fenomena ini mencerminkan tingginya arus pencari kerja menuju kota yang belum sepenuhnya diimbangi dengan penciptaan lapangan pekerjaan baru.
Meskipun demikian, penurunan jumlah pengangguran pada Mei 2026 memberikan sinyal positif terhadap pemulihan aktivitas ekonomi nasional.
Bertambahnya jumlah masyarakat yang bekerja menunjukkan roda ekonomi mulai bergerak lebih kuat di berbagai sektor.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia, perluasan investasi, serta penciptaan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri dinilai menjadi faktor penting untuk terus menekan angka pengangguran, terutama bagi lulusan pendidikan menengah dan generasi muda yang masih mendominasi pencari kerja di Indonesia.
Ikuti perkembangan berita ekonomi, ketenagakerjaan, dan kebijakan nasional terbaru hanya di https://JurnalLugas.Com.
(William)






