JurnalLugas.Com — Peta hubungan politik Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo kembali menjadi perhatian. Pengamat politik Rocky Gerung melihat dinamika tersebut tidak bisa dilepaskan dari posisi Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Presiden serta arah politik menuju Pemilu 2029.
Dalam diskusi yang dipandu Arie Putra di kanal YouTube Total Politik, Rocky menilai aktivitas Jokowi yang masih aktif turun ke berbagai daerah dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan pengaruh politik sekaligus menjaga ruang publik bagi Gibran.
Menurut Rocky, kepentingan terbesar Jokowi berada pada keberlanjutan posisi politik Gibran. Ia menyebut masa depan politik keluarga Solo masih berkaitan erat dengan pemerintahan Prabowo.
“Bagi Jokowi, posisi Gibran menjadi kunci keamanan politiknya,” ujar Rocky, dikutip Sabtu (5/9/2026).
Pandangan tersebut kemudian memunculkan kembali pembicaraan mengenai hubungan antara kubu Solo dan lingkaran Hambalang. Sorotan publik tidak hanya tertuju pada pernyataan politik, tetapi juga gestur serta berbagai simbol yang muncul dalam kegiatan kenegaraan.
Salah satunya adalah persoalan sitting arrangement yang sempat dikaitkan dengan isu kerenggangan hubungan Prabowo dan Gibran. Rocky melihat persoalan tersebut lebih dari sekadar posisi tempat duduk.
Ia menilai setiap pihak memiliki kalkulasi politik masing-masing, termasuk bagaimana menjaga citra pemerintahan sekaligus mengelola beban politik dari masa lalu.
“Prabowo tentu menghitung dampak elektoral dan persepsi publik,” kata Rocky.
Di sisi lain, Rocky turut menyoroti evaluasi terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo, khususnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak cukup diukur dari besarnya anggaran yang terserap.
Tata kelola, efisiensi, dan potensi benturan kepentingan justru menjadi bagian penting yang harus diawasi.
Pergantian figur di Badan Gizi Nasional (BGN) juga dinilai Rocky sebagai sinyal bahwa pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap program strategis tersebut. Ia menekankan pentingnya komitmen etis agar program pemerintah tidak berubah menjadi ruang kepentingan bisnis kelompok tertentu.
“Publik perlu melihat adanya komitmen untuk mencegah konflik kepentingan,” ujarnya.
Rocky juga menilai keberanian pemerintah untuk tidak memberikan perlindungan politik kepada pejabat yang menghadapi persoalan hukum dapat menjadi indikator bahwa Prabowo berusaha menunjukkan sikap tegas.
Bagi masyarakat, kata dia, stabilitas politik pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh pertarungan elite. Faktor paling nyata justru berada pada terpenuhinya kebutuhan dasar sehari-hari.
Ketersediaan LPG, BBM, pangan, dan kebutuhan pokok menjadi ukuran yang langsung dirasakan masyarakat. Selama kebutuhan tersebut tetap terjaga, kekhawatiran mengenai gejolak besar dinilai belum tentu mencerminkan kondisi politik sebenarnya.
Dinamika Prabowo, Jokowi, dan Gibran pun masih akan menjadi bagian penting dari peta politik nasional. Terlebih, arah hubungan ketiganya berpotensi ikut menentukan konfigurasi kekuatan politik menjelang 2029.
Baca perkembangan politik dan berita nasional lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
(Soefriyanto)






