JurnalLugas.Com – PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) tengah menjadi sorotan setelah mengalami lonjakan signifikan pada harga sahamnya, yang diperkirakan dipicu oleh rumor akuisisi oleh e-commerce China, Temu. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), pada sesi pertama perdagangan hari Selasa, 8 Oktober 2024, saham BUKA meningkat sebesar 1,39% dan mencapai Rp146 per saham. Peningkatan ini melanjutkan tren positif, setelah pada hari Senin sebelumnya, saham BUKA naik tajam sebesar 25,22%.
Volume Perdagangan yang Meningkat Drastis
Sejak awal pekan, volume perdagangan saham BUKA mengalami lonjakan besar. Pada hari Senin, volume perdagangan mencapai 4,05 miliar saham dengan nilai transaksi Rp577 miliar, jauh melebihi rata-rata volume perdagangan 20 hari terakhir yang hanya sekitar 350 juta saham. Tingginya volume perdagangan ini menandakan adanya tekanan beli yang kuat, sehingga menarik perhatian para pelaku pasar.
Spekulasi Akuisisi oleh E-commerce China, Temu
Lonjakan harga saham Bukalapak ini banyak dikaitkan dengan rumor akuisisi oleh Temu, e-commerce asal China yang dimiliki oleh PDD Holdings. Dalam catatan yang diterbitkan oleh Algo Research dan Henan Putihrai Asset Management (HPAM) pada 7 Oktober 2024, disebutkan bahwa Temu berencana untuk masuk ke pasar Indonesia. Namun, niat ini diperkirakan akan mendapat hambatan dari pemerintah Indonesia yang khawatir Temu dapat mengancam sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal dengan produk-produk impor dari China.
Spekulasi berkembang bahwa BUKA mungkin akan menjadi target akuisisi, seperti yang terjadi pada TikTok dan Tokopedia sebelumnya. Jika izin operasional untuk Temu tidak disetujui oleh pemerintah Indonesia, akuisisi terhadap BUKA bisa menjadi alternatif yang potensial.
Isu Divestasi di BBHI
Selain rumor akuisisi, ada juga spekulasi lain yang mengemuka terkait divestasi Bukalapak di Bank Allo (BBHI). Berdasarkan laporan dari Algo Research, BUKA mencatatkan kerugian pada tahun ini, sebagian besar disebabkan oleh investasi mereka di BBHI, di mana Bukalapak memiliki kepemilikan sebesar 11,5%. Saat ini, saham BBHI diperdagangkan di level Rp925 per saham, lebih rendah dari harga penutupan pada akhir tahun 2023.
Pasar berspekulasi bahwa Bukalapak mungkin akan menjual kepemilikan mereka di BBHI dan mengalihkan fokus untuk memperkuat ekosistem perbankan mereka melalui Superbank, sehingga dapat memperbaiki kinerja keuangan perusahaan ke depannya.
Potensi Pembagian Dividen atau Buyback Saham
Salah satu rumor lain yang beredar adalah terkait rencana Bukalapak untuk membagikan dividen atau melakukan pembelian kembali (buyback) saham. Menurut laporan Algo Research, Bukalapak memiliki dana kas yang cukup besar dari hasil IPO, yang per Juni 2024 tercatat sebesar Rp9,45 triliun. Dana ini diperkirakan dapat digunakan untuk buyback saham atau pembagian dividen kepada para pemegang saham sebagai langkah strategis meningkatkan nilai perusahaan di mata investor.
Sikap Bukalapak
Meskipun berbagai spekulasi beredar, pihak Bukalapak belum memberikan komentar resmi mengenai rumor yang ada. Investor dan pelaku pasar masih menunggu langkah strategis apa yang akan diambil oleh perusahaan di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.
Kenaikan harga saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencerminkan respons positif pasar terhadap rumor yang berkembang, baik terkait dengan potensi akuisisi oleh Temu, divestasi di BBHI, maupun rencana pembagian dividen atau buyback saham. Namun, hingga ada pernyataan resmi dari pihak Bukalapak, spekulasi ini tetap menjadi faktor yang memengaruhi sentimen pasar terhadap saham perusahaan.
Sebagai investor, penting untuk memantau perkembangan lebih lanjut dari berbagai isu ini, terutama terkait dampaknya pada kinerja keuangan dan prospek masa depan Bukalapak.






