JurnalLugas.Com – Setelah enam pekan berturut-turut mencatatkan aksi jual, investor Jepang akhirnya kembali ke pasar obligasi luar negeri sebagai pembeli bersih pada pekan yang berakhir 19 April 2025. Tren ini mencerminkan pulihnya sentimen pasar terhadap surat utang global, terutama setelah sempat diguncang aksi jual besar-besaran awal bulan ini.
Berdasarkan data resmi dari Kementerian Keuangan Jepang, para investor asal Negeri Sakura tersebut memborong obligasi asing jangka panjang senilai 223,7 miliar yen, setara sekitar Rp24,7 triliun. Ini menjadi catatan pembelian bersih pertama sejak akhir Februari, sekaligus mengakhiri tekanan jual yang berlangsung lebih dari satu bulan.
Kembalinya minat terhadap obligasi luar negeri ini terjadi seiring membaiknya pasar obligasi Amerika Serikat (AS), yang sebelumnya tertekan akibat gejolak kebijakan tarif dan kekhawatiran terhadap arah suku bunga. Sentimen negatif tersebut sempat mendorong investor global, termasuk hedge fund, untuk melepas obligasi AS sebagai langkah lindung nilai (hedging) terhadap risiko geopolitik dan ekonomi global.
Imbal hasil (yield) obligasi AS sempat melonjak sebagai dampak langsung dari aksi jual besar. Para pelaku pasar memilih menarik dana dari instrumen berbasis dolar AS, menyusul kekhawatiran bahwa kebijakan tarif baru dari Washington dapat mengganggu stabilitas perdagangan internasional.
Padahal, selama ini AS dikenal sebagai tempat parkir dana yang aman atau safe haven. Namun, guncangan di pasar membuat investor Jepang, yang saat ini merupakan pemegang terbesar surat utang AS dengan total kepemilikan sekitar USD1,13 triliun, bersikap lebih waspada. Setiap pergeseran strategi dari Jepang terhadap obligasi AS selalu menjadi sorotan tajam pasar keuangan global.
Di sisi lain, investor global justru melirik pasar keuangan Jepang. Dalam tiga minggu terakhir, arus modal asing ke pasar obligasi Jepang mencapai 11,95 triliun yen, sementara pasar saham menerima suntikan dana asing sebesar 3,7 triliun yen. Lonjakan investasi ini didorong oleh ekspektasi bahwa Bank of Japan (BOJ) tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga, guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
Perkembangan ini menandakan dinamika baru dalam lanskap investasi global, di mana para pelaku pasar mulai menyesuaikan kembali portofolio mereka, mencari peluang di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Baca update ekonomi dan pasar keuangan lainnya di JurnalLugas.com.






