JurnalLugas.Com — PT Solusi Sinergi Digital Tbk (Surge/WIFI) menunjukkan performa operasional yang solid sepanjang Januari–September 2025. Emiten telekomunikasi pengusung konsep Internet Rakyat ini berhasil mencatatkan pertumbuhan signifikan pada basis pelanggan, jaringan, hingga kinerja keuangan, seiring agresifnya ekspansi layanan Fiber-to-the-Home (FTTH).
Hingga kuartal III-2025, jumlah pelanggan HomeConnect Surge telah mencapai sekitar 830 ribu. Secara kuartalan, jumlah pelanggan melonjak 443 ribu atau tumbuh 114 persen, mencerminkan tingginya permintaan pasar terhadap layanan internet berbasis serat optik yang dikembangkan perseroan. Manajemen menargetkan HomeConnect dapat menembus 1,5 juta pelanggan hingga akhir 2025.
Tak hanya itu, HomePass Surge juga mencatat pertumbuhan impresif. Total HomePass mencapai sekitar 1,5 juta, meningkat 72 persen secara kuartalan atau bertambah sekitar 634 ribu. Peningkatan ini sejalan dengan langkah ekspansi jaringan yang semakin masif. Sepanjang 2025, HomePass ditargetkan mencapai 2,5 juta.
Dari sisi kualitas jaringan, tingkat take-up rate tercatat naik menjadi 55 persen, atau meningkat sekitar 10,7 persen dibanding kuartal sebelumnya. Sementara itu, infrastruktur backbone nasional Surge kini telah melampaui 10 ribu kilometer jaringan serat optik, membentang dari Sumatera Barat hingga Papua. Cakupan ini menjadi fondasi penting bagi skalabilitas bisnis jangka panjang.
Presiden Direktur Surge, Yune Marketatmo, menyampaikan bahwa perseroan saat ini berada dalam fase pertumbuhan agresif. “Fokus utama kami adalah ekspansi jaringan, percepatan akuisisi pelanggan, serta peningkatan skala platform agar dapat menangkap peluang pasar secara optimal,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (16/12/2025).
Dari sisi keuangan, pendapatan Surge hingga kuartal III-2025 mencapai Rp1,01 triliun. Angka tersebut melonjak 101 persen secara tahunan dan tumbuh 78 persen secara kuartalan. Kinerja ini terutama ditopang oleh pertumbuhan pesat layanan FTTH yang menjadi tulang punggung bisnis perseroan.
Sejalan dengan pendapatan, EBITDA juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 96 persen menjadi Rp697 miliar. Namun, laba bersih tercatat sebesar Rp261 miliar, tumbuh 70 persen secara tahunan, meski turun 78 persen secara kuartalan.
Penurunan laba bersih secara kuartalan antara lain dipengaruhi masuknya NTT e-Asia Pte Ltd sebagai pemegang saham minoritas baru. Anak usaha NTT East Japan tersebut mengakuisisi 49 persen saham PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE), anak usaha Surge, sehingga sekitar Rp70 miliar laba dialokasikan untuk kepentingan non-pengendali.
Selain itu, kenaikan biaya keuangan juga turut menekan laba. Total pinjaman berbunga dan obligasi perseroan meningkat dari Rp1,8 triliun pada kuartal II-2025 menjadi Rp3,1 triliun pada kuartal III-2025, seiring kebutuhan pendanaan ekspansi.
Arus kas operasi juga tercatat turun 70 persen secara tahunan menjadi Rp116 miliar. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya pembayaran bunga akibat kenaikan pembiayaan. Meski demikian, manajemen menilai kondisi tersebut masih sejalan dengan strategi pertumbuhan jangka panjang.
“Fluktuasi jangka pendek pada laba dan arus kas merupakan konsekuensi dari fase ekspansi. Ke depan, peningkatan kepadatan jaringan dan utilisasi diharapkan mampu mendorong leverage operasional yang lebih besar,” jelas Yune.
Ia menambahkan, dengan penetrasi FTTH yang terus meningkat, ditambah penguatan konektivitas korporasi dan layanan bernilai tambah, Surge berada pada posisi strategis untuk memaksimalkan monetisasi jaringan dalam beberapa tahun mendatang.
Berita selengkapnya dapat dibaca di https://jurnallugas.com






