Indonet Ajukan Voluntary Delisting dari BEI, Saham EDGE Resmi Disuspensi

JurnalLugas.Com — PT Indointernet Tbk atau Indonet (kode saham: EDGE) resmi mengajukan penghapusan pencatatan saham secara sukarela (voluntary delisting) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah strategis ini diambil bertepatan dengan lima tahun Indonet berstatus sebagai perusahaan terbuka sejak penawaran umum perdana (IPO) pada Februari 2021.

Manajemen Indonet telah menyampaikan permohonan delisting sekaligus penghentian sementara perdagangan saham kepada BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 9 Februari 2026. Permohonan tersebut mendapat persetujuan regulator, sehingga perdagangan saham EDGE resmi disuspensi mulai sesi pertama perdagangan Selasa, 10 Februari 2026.

Bacaan Lainnya

Direktur Utama PT Indointernet Tbk, Andrew Joseph Rigoli, menyatakan bahwa keputusan ini merupakan bagian dari rencana perseroan untuk bertransformasi menjadi perusahaan tertutup atau go private.

“Perdagangan saham perseroan telah dihentikan terhitung sejak sesi pertama perdagangan pada 10 Februari 2026,” ujar Andrew dalam keterbukaan informasi kepada publik.

Alasan Indonet Pilih Go Private

Andrew menjelaskan, sebagai bagian dari grup Digital Edge, Indonet melihat persaingan industri pusat data (data center) semakin ketat meskipun prospeknya masih terus bertumbuh. Kondisi tersebut menuntut fleksibilitas tinggi dalam pengambilan keputusan dan realisasi investasi jangka panjang.

Menurutnya, integrasi antarentitas dalam grup membutuhkan proses yang lebih ringkas dan cepat, sesuatu yang dinilai sulit dioptimalkan jika tetap berada dalam kerangka regulasi perusahaan terbuka.

“Kami membutuhkan penyelarasan strategi yang lebih leluasa agar rencana investasi dan pengembangan bisnis dapat berjalan efektif,” ungkap Andrew secara singkat.

Selain faktor strategis, rendahnya likuiditas saham EDGE juga menjadi pertimbangan utama. Saham Indonet dinilai kurang aktif diperdagangkan, sehingga status sebagai emiten tercatat dianggap tidak lagi memberikan manfaat optimal bagi perseroan.

Likuiditas Rendah dan Harga Saham Turun

Data menunjukkan, saham EDGE saat ini berada di level Rp4.790 per saham, turun cukup jauh dibandingkan harga IPO yang dipatok di Rp7.375. Perseroan juga hanya memiliki free float sekitar 7,9 persen, membuat pergerakan saham relatif terbatas.

Hingga akhir Januari 2026, jumlah pemegang saham publik Indonet tercatat sebanyak 1.695 investor. Kondisi ini memperkuat alasan manajemen bahwa likuiditas saham tidak mencerminkan nilai fundamental dan prospek bisnis perseroan.

Andrew menegaskan bahwa proses voluntary delisting dirancang untuk tetap melindungi kepentingan pemegang saham publik.

“Go private memberi kesempatan keluar yang adil dan teratur bagi pemegang saham publik,” katanya.

Langkah Mengejutkan Pasar

Keputusan Indonet untuk keluar dari bursa terbilang mengejutkan pelaku pasar, mengingat perusahaan teknologi ini baru lima tahun melantai di BEI. Namun, langkah tersebut dinilai sejalan dengan tren sejumlah emiten teknologi global yang memilih kembali menjadi perusahaan tertutup demi fokus pada ekspansi jangka panjang tanpa tekanan pasar modal.

Ke depan, Indonet akan memusatkan pengembangan bisnisnya di sektor infrastruktur digital dan pusat data dengan strategi yang lebih terintegrasi bersama grup Digital Edge.

Baca berita ekonomi dan pasar modal lainnya hanya di JurnalLugas.com.

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk Pailit Ribuan Investor Terjebak Saham Nyangkut

Pos terkait