JurnalLugas.Com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali menelan korban jiwa.
Seorang warga dilaporkan meninggal dunia setelah diduga terjebak kepulan asap tebal dan kobaran api saat melintasi kawasan yang sedang dilanda kebakaran.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa bahaya karhutla tidak hanya berasal dari api yang membakar lahan, tetapi juga dari asap pekat yang dapat mengurangi jarak pandang dan mengancam keselamatan warga.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwantoro, menjelaskan korban diduga sedang dalam perjalanan pulang ketika nekat melewati jalur yang telah dipenuhi asap.
Kondisi tersebut diduga membuat korban mengalami kekurangan oksigen hingga kehilangan kesadaran.
“Diduga korban menerobos kepulan asap saat hendak pulang. Kemungkinan kekurangan oksigen sehingga pingsan, sementara di kedua sisi jalan terdapat kobaran api,” ujar Yunifar, Rabu 05 Agustus 2026.
Menurutnya, korban diperkirakan terjatuh di lokasi kejadian setelah tidak mampu bertahan akibat tebalnya asap. Dalam kondisi tidak sadarkan diri, tubuh korban kemudian terbakar hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia.
Selain korban meninggal, BPBD juga menerima laporan seorang warga lanjut usia mengalami luka bakar akibat kebakaran tersebut. Korban berhasil dievakuasi oleh petugas dan langsung dibawa ke Rumah Sakit dr. Agoesdjam Ketapang untuk mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, upaya penanganan kebakaran masih berlangsung di sejumlah titik. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan unsur terkait terus melakukan pemadaman sejak dini hari hingga siang hari untuk mencegah api meluas ke kawasan lain.
Menghadapi kondisi yang semakin kompleks, operasi pemadaman dari udara mulai dioptimalkan. Helikopter water bombing dikerahkan untuk menjatuhkan ribuan liter air di sejumlah lokasi prioritas yang sulit dijangkau petugas darat.
Yunifar mengatakan wilayah Desa Pelang dan kawasan Bukit Gunung Skuri, Kecamatan Sungai Laur, menjadi fokus utama karena intensitas kebakaran di daerah tersebut cukup tinggi.
Teknik water bombing dinilai menjadi solusi penting dalam mempercepat pengendalian api, terutama pada kawasan yang memiliki vegetasi kering dan akses yang terbatas. Pemadaman dari udara juga membantu mengurangi penyebaran api ketika tim darat kesulitan memasuki lokasi.
BPBD memperkirakan luas lahan yang terbakar di kawasan Desa Pelang telah melampaui 40 hektare. Angka tersebut masih berpotensi bertambah apabila kondisi cuaca kering dan angin kencang terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan.
Di lapangan, petugas menghadapi tantangan besar karena minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Kondisi itu membuat proses pemadaman secara manual membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kondisi normal.
“Hambatan terbesar adalah terbatasnya sumber air. Karena itu dukungan operasi water bombing sangat diperlukan, terutama di titik-titik yang sulit dijangkau tim darat,” kata Yunifar.
Melihat luasnya area yang terdampak, BPBD berharap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat memperkuat dukungan penanganan dengan menempatkan helikopter patroli dan armada water bombing di Bandara Rahadi Oesman Ketapang. Langkah tersebut dinilai akan mempercepat respons ketika muncul titik api baru di berbagai wilayah.
Berdasarkan pemantauan BPBD, kebakaran kini telah terdeteksi di hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Ketapang. Situasi tersebut membuat seluruh unsur penanggulangan bencana meningkatkan kesiapsiagaan, termasuk melakukan patroli darat dan pemantauan titik panas secara berkala.
Pemerintah daerah kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan menggunakan metode pembakaran. Cara tersebut tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga berisiko memicu kebakaran dalam skala besar, terutama saat musim kemarau.
Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api sekecil apa pun kepada aparat desa, BPBD, atau petugas pemadam kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas dan mengancam permukiman maupun kawasan hutan.
Karhutla yang masih berlangsung di Ketapang menjadi peringatan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah dampak yang lebih besar, baik terhadap keselamatan jiwa, kesehatan masyarakat, maupun kelestarian lingkungan.
Ikuti perkembangan berita nasional, kebencanaan, dan informasi terbaru lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com.
(Catur)






