Budi Arie Sebut KDM, Sinyal Baru Konfigurasi Politik Pilpres 2029

JurnalLugas.Com – Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai memunculkan sejumlah nama. Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi ikut membuka pembicaraan dengan menyebut Kang Dedi Mulyadi atau KDM saat membahas figur yang dinilai memiliki karakter populis sekaligus kemampuan teknokratis.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi Arie dalam podcast Akbar Faizal Uncensored yang tayang di kanal YouTube Akbar Faizal, Minggu (6/9/2026).

Bacaan Lainnya

Dalam perbincangan itu, muncul wacana mengenai kemungkinan perpaduan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan Dedi Mulyadi. Akbar Faizal kemudian mempertanyakan apakah kombinasi karakter keduanya dapat menjadi kekuatan politik.

Baca Juga  Budi Arie Semua Notaris Bisa Terbitkan Akta Koperasi Desa

Budi Arie menjelaskan bahwa demokrasi membutuhkan kemampuan membangun mandat dari masyarakat sekaligus kapasitas dalam menjalankan pemerintahan.

Menurut dia, perkembangan media sosial juga membuat popularitas seorang tokoh dapat bergerak jauh lebih cepat dibandingkan era sebelumnya.

Pembahasan kemudian mengarah pada hubungan Dedi Mulyadi dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Budi Arie mengakui adanya relasi antara keduanya dan menilai gaya komunikasi politik KDM mempunyai kemiripan dengan Jokowi.

“Gaya KDM mirip Pak Jokowi, terutama dalam mendekati rakyat,” ujar Budi Arie, yang diringkas dari pernyataannya dalam podcast tersebut.

Pernyataan itu menarik perhatian karena datang dari Ketua Umum Projo, organisasi relawan yang selama ini dikenal dekat dengan Jokowi.

Penyebutan nama KDM dalam pembahasan mengenai Pilpres 2029 pun memperlihatkan bahwa figur tersebut mulai masuk dalam percakapan politik tingkat nasional.

Meski demikian, Budi Arie belum menyatakan adanya keputusan atau dukungan resmi terhadap pasangan tertentu. Pembicaraan mengenai Gibran dan KDM masih sebatas melihat kemungkinan perpaduan karakter politik keduanya.

Jalan menuju Pilpres 2029 juga masih panjang. Elektabilitas, dinamika partai politik, koalisi, serta keputusan para tokoh nasional akan menjadi faktor penting yang menentukan siapa yang akhirnya masuk dalam pertarungan.

Baca berita lainnya JurnalLugas.Com

(Soefriyanto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait